Peringatan 29 Tahun Pembantaian Masjid Ibrahim

Iqamah berkumandang di Kota Al Khalil (Hebron). Menyegerakan warga yang hendak shalat subuh di Masjid Ibrahim pada 25 Februari 1994. Saat itu bulan Ramadan, masjid pun begitu ramai.

Saat imam memulai shalat rakaat pertama, suara tembakkan menggema. Warga yang baru shalat berlarian. Darah pun berceceran di dalamnya. Menjadikan hari itu sebagai hari paling berdarah diingatan warga Al Khalil.

Baruch Goldstein, Yahudi berkewarganegaraan Israel yang berimigrasi pada 1983. Menembak ke arah kerumunan saat jamaah rukuk dalam salat-nya. Tanpa ampun, tanpa ragu.

Saat ia menghentikan tembakannya, Al Jazeera melaporkan sebenarnya tak hanya membunuh 29 orang. Warga lokal mengatakan terdapat sekitar 50-70 orang yang meninggal di tempat.

Warga yang luka-luka juga bukan hanya seratusan, dilaporkan sekitar 250 orang terluka. Bahkan ada warga yang mengatakan bahwa penembak tak hanya Goldstein, tapi juga terdapat tentara Zionis di sana.

Setelah kejadian tersebut, tentara Israel juga membunuh warga dalam aksi-aksi protes pembantaian Masjid Ibrahim.

Bagi Muslim dan Yahudi, masjid ini dipercaya memiliki sisa peninggalan dan makam Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya’kub.

Setelah aksi pembantaian, Masjid Ibrahim tutup selama sembilan bulan. Parahnya, saat dibuka kembali setengah masjid telah diubah menjadi sinagog. Tiap tahun, keduanya memiliki “hak” menggunakan keseluruhan bangunan selama 10 hari. Khususnya saat hari perayaan.

Meskipun begitu, pembagian Masjid Ibrahim melanggar hukum internasional mengenai tempat ibadah. Satu agama tak diperbolehkan melecehkan bahkan mengambil alih tempat ibadah umat lain.

Pembantaian Masjid Ibrahim 29 tahun dan pembagiannya kini membuktikan bahwa penjajahan Israel masih berlanjut.

Sumber: Al Jazeera, ILKHA, Qudsnen

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *