Israel Bom Dapur Makanan, 10 Gugur
02 Oct 2025 - Berita
Pasukan penjajahan Israel mengebom sebuah lumbung pangan di lingkungan Mawasi, Al-Qarara, utara Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, pada Kamis pagi, menewaskan sedikitnya 10 warga Palestina, sebagian besar dari satu keluarga, menurut laporan Kompleks Medis Nasser.
Para korban diidentifikasi sebagai Jumaa Ishaq Shurab dan kelima putranya, Osama, Muhammad, Mahmoud, dan Ahmed. Korban wafat lainnya ada Jumaa Salem Shurab, Ahmed Diab Al-Aqqad, Zakaria Yousef Shabir, Izz al-Din Nabil Badir, dan Ibrahim Adel al-Khatib.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa rumah sakit di seluruh wilayah tersebut menerima 77 jenazah dan 222 korban luka dalam 24 jam terakhir. Dengan tambahan ini, jumlah korban tewas sejak 7 Oktober 2023 mencapai 66.225 orang, sementara 168.938 lainnya luka-luka akibat serangan tanpa henti Israel di Jalur Gaza.
Sumber rumah sakit menambahkan bahwa 34 orang tewas hanya dalam serangan udara sejak fajar, termasuk empat warga Palestina yang sedang mencari bantuan kemanusiaan. Serangan ini menandai eskalasi baru di tengah intensifikasi pemboman Israel di berbagai front, dari utara hingga selatan Gaza.
Pesawat-pesawat tempur Israel melancarkan serangan beruntun di permukiman Sabra di selatan Kota Gaza, diikuti tiga serangan lain di pinggiran timur Khan Yunis. Di barat Gaza, permukiman al-Nasr dihujani tembakan artileri berat, sementara kamp pengungsi Maghazi di wilayah tengah juga menjadi sasaran bombardemen.
Di Kota Gaza, tentara Israel meledakkan kendaraan lapis baja berisi bahan peledak dan menggunakan pesawat tak berawak untuk menjatuhkan bom asap di dalam Sekolah Hassan al-Basri, yang digunakan sebagai tempat perlindungan warga pengungsi.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz mengeluarkan peringatan terakhir kepada warga Kota Gaza, memerintahkan mereka untuk meninggalkan wilayah tersebut atau akan dicap sebagai “teroris dan pendukung teror”. Ia juga mengonfirmasi bahwa pasukan Israel kini menguasai perlintasan Netzarim, yang secara efektif memisahkan Gaza utara dan selatan, sehingga setiap pergerakan menuju selatan kini dikontrol penuh oleh militer Israel.