Keluarga Bocah Gaza yang Tewas saat Mencari Makanan Masih Menunggu Jenazahnya
05 Aug 2025 - Berita
Lebih dari dua bulan telah berlalu sejak Abdulrahim “Amir” al-Jarabe’a, bocah Gaza berusia sepuluh tahun, pergi meninggalkan rumah untuk mencari makanan dan tak pernah kembali. Pencarian keluarganya di rumah sakit, klinik, hingga kamar jenazah tak membuahkan hasil. Namun kesaksian seorang kontraktor keamanan Amerika kini mengungkapkan nasib tragis Amir dan menghidupkan kembali duka yang tak pernah padam.
Anthony Aguilar, mantan tentara AS yang bekerja sebagai kontraktor untuk Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), mengatakan bahwa ia menyaksikan langsung pasukan Israel menembak Amir di lokasi distribusi bantuan pada 28 Mei. “Anak itu berjalan tanpa alas kaki, kurus, dan kelelahan,” kenangnya dalam podcast UnXeptable. “Dia mencium pipi saya dan berterima kasih... beberapa menit kemudian mereka menembaknya.”
Keluarga Amir kini hanya punya kesedihan dan kemarahan. “Dia pergi mencari makan dan tidak pernah kembali,” ujar ibu tirinya, Siham al-Jarabe’a, kepada Middle East Eye. “Kalau anjingnya hilang, dunia pasti akan bertanya ke mana perginya. Tapi karena dia anak Palestina, tak ada yang peduli.” Ayah Amir sendiri telah gugur dalam serangan udara Israel pada Desember lalu. Sejak itu, bocah kecil itu berusaha membantu keluarganya bertahan hidup di reruntuhan Gaza selatan.
Menurut Addameer, sedikitnya 54 warga Palestina masih hilang setelah mengunjungi lokasi bantuan GHF. Banyak di antara mereka adalah anak-anak. Saksi mata menyebut pasukan Israel tidak hanya menembaki warga yang antre bantuan, tapi juga menghalangi pengambilan jenazah, bahkan menghancurkannya dengan buldoser. PBB memperkirakan lebih dari 1.000 warga Palestina telah gugur sejak proyek bantuan GHF dimulai pada akhir Mei sebagian besar saat berusaha mengakses makanan.
GHF, yang diluncurkan Israel dan AS pada Maret 2025 sebagai pengganti mekanisme bantuan PBB, dikritik keras karena dianggap lebih menyerupai operasi militer ketimbang lembaga kemanusiaan. Banyak stafnya adalah kontraktor pertahanan Barat, dan CEO pertamanya mundur hanya beberapa minggu setelah peluncuran, dengan alasan pelanggaran HAM. Meski para pejabat GHF bersikeras bahwa mereka berupaya menyelamatkan nyawa, di lapangan sistem ini justru menimbulkan kekacauan dan pertumpahan darah.
“Tempat bantuan berubah menjadi arena maut,” kata seorang pengungsi Gaza. “Rasanya seperti Squid Game. Kau datang untuk mencari roti, tapi bisa pulang dalam peti.”
Kini, di tengah kelaparan yang melanda lebih dari 1,5 juta warga Gaza dan menewaskan lebih dari seratus orang, kisah Amir menjadi simbol dari penderitaan sebuah generasi yang tumbuh di bawah penjajahan, kelaparan, dan penindasan sistematis. Ia hanyalah seorang anak yang ingin membawa pulang makanan untuk keluarganya dan malah dibungkam oleh peluru.