
PBB Sebut Distribusi Bantuan Gaza yang Dikerjakan AS-Israel sebagai “Kegagalan”
14 Jun 2025 - Berita
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan kecaman tajam terhadap Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), program bantuan baru yang didukung Amerika Serikat dan Israel, menyebutnya sebagai kegagalan dari sudut pandang kemanusiaan dan penyebab tambahan penderitaan di Jalur Gaza. Juru bicara OCHA, Jens Laerke, dalam konferensi pers di Jenewa, Jumat (28/6), menegaskan bahwa “GHF tidak menjalankan prinsip dasar operasi kemanusiaan: memberikan bantuan dengan aman dan terjamin.”
GHF, organisasi swasta yang mulai beroperasi pada 26 Mei setelah penutupan total koridor bantuan ke Gaza oleh Israel, mengklaim telah mendistribusikan 18 juta makanan. Namun, lembaga-lembaga utama PBB dan organisasi kemanusiaan internasional menolak bekerja sama dengan inisiatif ini, menyoroti kurangnya transparansi, politisasi bantuan, serta keterkaitannya dengan agenda militer Israel. Kritikus menuduh GHF sebagai instrumen yang memanipulasi bantuan demi kontrol politik, dengan pasokan sering dikirim melalui zona tembak aktif.
Sejak GHF mulai beroperasi, titik distribusi bantuan justru menjadi lokasi pembantaian berulang. Pada Jumat lalu saja, sedikitnya 20 warga Palestina tewas dalam serangan Israel saat mencoba mengakses bantuan, termasuk di bundaran Nablus dan sekitar Sekolah Amerika di Gaza utara. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, hingga Kamis, 245 orang telah tewas dan lebih dari 2.152 terluka di sekitar area distribusi bantuan. Militer Israel mengklaim hanya melepaskan tembakan peringatan, namun laporan saksi mata dan tim medis membantah pernyataan tersebut.
Laerke menegaskan bahwa PBB siap kembali menjalankan operasi besar-besaran jika diberikan akses yang aman dan teratur oleh Israel. Sementara itu, UNRWA menyebut pendekatan GHF “mematikan dan merendahkan martabat,” menolak terlibat sejak awal. Kritik juga mengarah pada bagaimana GHF digunakan untuk membatasi akses pangan sebagai alat hukuman kolektif dan pengungsian paksa—praktik yang, menurut banyak pengamat, sejalan dengan pola dugaan genosida yang sedang diselidiki di pengadilan internasional. Hingga kini, lebih dari 182.000 warga Palestina telah tewas atau terluka, dan krisis kelaparan terus memburuk, terutama di kalangan anak-anak.