
Tentara Israel Akui Mustahil Kalahkan Hamas Setelah IDF Disergap
01 Jul 2025 - Berita
Sumber militer yang dikutip Yedioth Ahronoth secara tegas menolak gagasan pendudukan penuh Gaza, menyebutnya tidak realistis secara militer dan ekonomi. Mereka juga mengkritik keras menteri-menteri sayap kanan yang mendorong perang jangka panjang, menyebut tujuan untuk "menundukkan Hamas" sebagai hal yang mustahil.
Sementara itu, situs Axios mengungkap kebuntuan dalam negosiasi. Hamas menuntut jaminan akhir perang, namun Israel menolak menjanjikan gencatan senjata permanen, memperumit peluang deeskalasi.
Kepala Staf Israel memperingatkan dalam rapat tertutup bahwa perluasan operasi darat di Gaza berisiko tinggi terhadap keselamatan para sandera Israel. Ia mengakui kondisi mereka sangat memprihatinkan—pernyataan langka yang mencerminkan kegagalan militer dalam membebaskan para tawanan, delapan bulan sejak perang dimulai.
Juni menjadi bulan paling mematikan bagi tentara Israel pada 2025, dengan 20 tentara tewas di Gaza. Sebanyak 15 dari mereka gugur dalam pertempuran di Khan Younis pada 24 Juni, sementara lainnya tewas dalam pertempuran di Gaza utara.
Meski intensitas bentrokan dilaporkan menurun, perlawanan Palestina tetap berlangsung. Data resmi menyebutkan 880 tentara Israel tewas dan lebih dari 6.000 terluka sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023.
Israel kini menghadapi tekanan di berbagai front. Serangan terus dilancarkan ke Gaza, meski konflik langsung dengan Iran mendorong reposisi besar-besaran pasukan ke Suriah, Lebanon, dan Tepi Barat. Serangan udara Israel juga menjangkau wilayah Yaman.
Pada 13 Juni, Israel dan Amerika Serikat meluncurkan kampanye militer besar terhadap Iran selama 12 hari, menargetkan fasilitas militer dan sipil. Ratusan orang tewas, termasuk pejabat senior dan ilmuwan Iran. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone, menyebabkan korban signifikan di Israel.
Meskipun fokus internasional kini tertuju pada konflik Israel-Iran, serangan terhadap Gaza terus berlanjut. Warga sipil tetap menjadi korban utama.
Hingga kini, sekitar 190.000 warga Palestina di Gaza tewas atau terluka—sebagian besar perempuan dan anak-anak. Lebih dari 11.000 orang masih hilang di tengah blokade total, kelaparan, dan kehancuran sistem kemanusiaan, yang terjadi di bawah dukungan penuh politik dan militer dari Amerika Serikat.