Status “Penyewa”, Jebakan Penjajah Israel Untuk Mengusir Warga Sheikh Jarrah

Pengadilan Israel izinkan pencurian tanah milik keluarga Palestina di Sheikh Jarrah lewat keputusan menjadikan keluarga yang telah tinggal di sana selama puluhan tahun sebagai “penyewa”. Penjajah Israel kemudian mengumumkan pembangunan baru di lingkungan Sheikh Jarrah hanya beberapa hari setelah keluarga di wilayah tersebut menolak berkompromi di Mahkamah Agung Israel. Pembangunan ini melingkupi beberapa proyek seperti TK untuk anak Yahudi, taman umum khusus Yahudi, lahan parkir khusus Yahudi, dan pemukiman ilegal.

2 November lalu, penduduk Sheikh Jarrah menyatakan¬†penolakan terhadap kompromi yang diusulkan oleh Mahkamah Agung Israel yakni menawarkan mereka tetap tinggal di sana dengan status “penyewa” di rumah mereka sendiri. Inilah jebakan yang memungkinkan penjajah untuk mengusir dan menggusur mereka di masa depan.

Penduduk Sheikh Jarrah mengatakan bahwa pengadilan Israel menghindari tanggung jawab untuk mencapai keputusan akhir yang adil, malah memaksa mereka untuk memilih antara pengusiran atau menyerah pada kesepakatan jahat sebagai penyewa.

Perusahaan Philippines Inc memaksa keluarga di Sheikh Jarrah untuk mengosongkan rumah mereka di lingkungan tersebut, mengklaim bahwa mereka adalah pemilik properti dan bahwa orang Palestina adalah penyewa di dalamnya. Di antara pemilik rumah yang menerima pemberitahuan di lingkungan Sheikh Jarrah adalah Amal Shraitah, Labiba Al-Khatib, Ahmed Al-Ghazawi, Fatima Al-Bashiti, Mustafa Al-Khatib, Amin Abu Dawla, Asim Al-Bashiti.

Putusan Mahkamah Agung Israel bersifat final dan tidak dapat diajukan banding. Hukum internasional menganggap Tepi Barat dan Yerusalem Timur sebagai wilayah pendudukan dan menganggap semua aktivitas pembangunan permukiman Yahudi di sana ilegal.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *