Tisha B’Av : Kok Meratap di Komplek Masjidil Aqsa, sih?

Tisha B’Av merupakan hari bersedih bagi orang Yahudi untuk meratapi kehancuran Bait Suci, Tisha B’Av dilakukan tanggal 9 bulan Ab setiap tahun (bertepatan dengan 9 Dzulhijjah). Namun, jika 9 Ab bertepatan dengan hari Sabat (Sabtu), maka mereka akan menunda ritual Tisha B’av ke tanggal 10. Sebab bagi Yahudi hari Sabtu adalah hari berhenti bekerja alias istirahat.

Sebenarnya, mereka harus mengondisikan kesedihan sejak tanggal 1 Ab. Mereka pantang makan makanan mewah, tidak minum alkohol, tidak memakai pakaian bersih.

Puncaknya, pada 9 Ab pemeluk Yahudi akan berpuasa 25 jam, menahan diri dari kenikmatan duniawi seperti mandi, memakai pelembab, memakai sepatu kulit, dan berhubungan seksual. Salah satu praktek berkabung lainnya ialah dengan duduk serendah mungkin (misalnya di lantai) sambil membaca kitab ratapan.

Tahukah kamu? Mereka melakukan ratapan di Tembok Buroq (alias Tembok Ratapan, alias Western Wall, alias Wailing Wall) Kompleks Masjidil Aqsa.

Ini gambar kompleks Masjidil Aqsa :

Gagal paham, kenapa meratapnya mesti di Al-Aqsa. Padahal, jauh sebelum masjidil Aqsa berbentuk seperti sekarang (dahulu hanya tanah lapang kosong), nenek moyang Yahudi tak meratap di Aqsa, tapi di Bukit Zaitun (Mount Olive).

Padahal, mereka tak punya hak mengklaim Aqsa sebagai miliknya.

Zaman kekhalifahan Umar saat Palestina ditaklukkan tanpa penumpahan darah, Uskup Agung Sophronius memberikan kunci Kota Jerusalem kepada Umar bin Khattab dengan hati lapang karena tenang melihat Umar datang dengan pakaian sederhana dan tanpa arak-arak, hanya mengendarai seekor unta yang ditunggangi bergantian dengan ajudannya.

Uskup Agung Sophronius bahkan mengatakan, “saya tidak pernah menyesali menyerahkan Kota Suci ini, karena saya telah menyerahkannya kepada umat yang lebih baik.”

Dibantu mantan Yahudi yang telah memeluk Islam, Umar menemukan batu lokasi Isra Miraj dan Tembok Buraq sesuai deskripsi Rasulullah. Kondisinya? Tanah lapang tersebut dijadikan tempat sampah oleh kaum Nasrani.

Sebelumnya kala dikuasai Nasrani, kaum Yahudi tidak diizinkan tinggal di Kota Al-Quds atau Jerusalem.

Barulah setelah berada di bawah pemerintahan Islam, Umar mengizinkan Yahudi dan Nasrani hidup di Jerusalem. Damai, tentu saja.

Semua berdampingan dan saling menghargai di bawah Otoritas Islam. Yahudi bahkan menyebut ‘Raja’ Islam (padahal bukan raja, tapi khalifah Umar) sebagai “teman Yahudi”.

Di masa itu, Yahudi beribadah (meratap) di pinggiran kota, di gerbang kota, atau di Bukit Zaitun.

Segalanya berubah kala lahir gerakan Zionisme. Mereka mengakui Tembok Buroq sebagai tembok ratapan. Bahkan mereka menyebar klaim yang menyatakan ada Kuil Solomon di bawah Masjidil Aqsa.

Zionis terus melancarkan upaya berkelanjutan untuk merebut Al-Aqsha, dan jalannya makin mulus setelah perjanjian Balfour.

Setelah jadi ‘negara’, Israel makin lancar menekan muslim. Meneror muslim agar tertekan dan jauh-jauh dari Aqsa juga mereka lakukan. Lobi-lobi politik dilakukan. Beragam narasi dimainkan lewat Hasbara Project.

Resolusi UNESCO soal hak akses Masjidil Aqsa (2016) yang menyatakan Aqsa adalah milik umat Islam jelas membuat Israel murka.

Tiap tahun, jumlah Yahudi yang masuk ke kompleks AL-Aqsa terus meningkat. Bahkan saat pandemi merebak pun, tetap banyak pemeluk Yahudi melaksanakan Tisha B’Av dan masuk Masjidil Aqsa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *