111

111

30 Sep 2026 - Berita

(17/9) 1 "Fi Hada 'Aayish?" (Apakah Ada yang Masih Hidup?): Bagaimana Bangunan Rusak Menjadi Jebakan Maut di Gaza


KOTA GAZA — Tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza kembali memperlihatkan wajah terkelamnya. Rumah-rumah dan gedung pemukiman yang sempat lolos dari pengeboman langsung kini bertransformasi menjadi "jebakan maut" bagi para pengungsi.


Peristiwa pembantaian terselubung ini memuncak pada Rabu dini hari di kawasan Industri, barat daya Kota Gaza, ketika gedung kediaman berlantai enam yang telah mengalami kerusakan struktur akibat gempuran militer Israel sebelumnya, tiba-tiba runtuh menimpa puluhan warga yang sedang tidur.


Jeritan Di Antara Debu dan Reruntuhan

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Dr. Munir Al-Bursh, menggambarkan situasi memilukan di lokasi kejadian melalui kalimat paling menyayat hati yang terus digaungkan oleh tim penyelamat dan kepolisian di balik puing-puing: "Fi hada 'aayish?" (Apakah ada yang masih hidup?).


  1. Jeritan Konsisten di Seluruh Distrik: Dr. Al-Bursh menegaskan bahwa panggilan ini bukan sekadar kalimat operasional, melainkan cerminan dari keseluruhan perang di Gaza. Di setiap lingkungan yang diratakan dan rumah yang ambruk, kalimat ini terus bergema menembus keheningan dan debu demi mencari hembusan napas, gerakan tangan, atau anak kecil yang menanti diselamatkan dari kegelapan.

  2. Kematian yang Belum Berhenti: Meski dentuman artileri sesekali mereda, kematian tidak pernah berhenti. Rumah-rumah yang retak terus runtuh satu per satu.

  3. Estimasi Korban: Dari gedung ini saja, terdapat sekitar 100 orang dinyatakan hilang di bawah reruntuhan, termasuk 50 anak-anak. Data terbaru dari Kementerian Dalam Negeri di Gaza mengonfirmasi sedikitnya 21 jenazah telah dievakuasi, di mana 12 di antaranya adalah anak-anak dan 5 wanita.

Kabur dari Neraka Tenda Menuju Maut di Bawah Puing

Gedung yang runtuh tersebut sebelumnya telah berkali-kali terguncang akibat sabuk ledakan (firebelts) militer Israel. Namun, keterbatasan tempat beralur dan kejamnya kondisi hidup di tenda-tenda pengungsian memaksa puluhan keluarga—sebagian besar perempuan dan anak-anak—untuk nekat kembali dan berteduh di dalam bangunan terdistorsi tersebut.


Tanpa adanya alat berat, warga lokal bersama tim penyelamat terpaksa menggalinya menggunakan alat seadanya atau tangan kosong untuk menyelamatkan mereka yang tertimbun.


Kemarahan Publik dan Desakan Masuknya Alat Berat

Unggahan video di media sosial yang merekam momen dramatis saat seorang anak perempuan berteriak minta tolong dari balik reruntuhan memicu gelombang kemarahan luas:


  1. Tempat Beralur Menjadi Sarana Kematian: Para aktivis dan warga menyoroti fakta bahwa tempat tinggal di Gaza kini berubah menjadi instrumen kematian lainnya.

  2. Seruan Intervensi Internasional: Lembaga kemanusiaan dan warga mendesak komunitas internasional untuk segera menekan Israel agar mengizinkan masuknya peralatan berat (heavy machinery) guna membersihkan reruntuhan dan merestorasi bangunan yang retak.

  3. Ancaman Maut Tertunda: Tanpa penanganan medis dan alat berat, ribuan bangunan yang retak di seluruh Gaza akan terus menjadi ancaman permanen dan "kematian yang tertunda" bagi warga sipil.


Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya