Al-Quds International: Israel Ambil Alih Kompleks Al-Aqsa, 'Status Quo' Resmi Berakhir

Al-Quds International: Israel Ambil Alih Kompleks Al-Aqsa, 'Status Quo' Resmi Berakhir

25 Jul 2026 - Berita

Lembaga Al-Quds International memperingatkan bahwa serangan massal ribuan pemukim Israel saat peringatan Tisha B’Av telah secara efektif mengakhiri status quo di Masjid Al-Aqsa. Peristiwa ini dinilai sebagai ancaman paling serius terhadap situs suci tersebut sejak pendudukan Yerusalem Timur pada tahun 1967.


Menurut laporan lembaga tersebut, sebanyak 4.288 pemukim Israel—dipimpin langsung oleh Itamar Ben-Gvir dan sejumlah pejabat tinggi—menceroboh kompleks Al-Aqsa. Pihak otoritas Israel memanfaatkan momen tersebut untuk menciptakan fakta-fakta baru di lapangan melalui empat langkah utama:


  1. Pembagian Waktu (Temporal Division): Memblokir akses dan mengosongkan kompleks Al-Aqsa khusus untuk pemukim selama hari peringatan Yahudi.
  2. Pembagian Ruang (Spatial Division): Mendirikan kanopi/tenda permanen di halaman Al-Aqsa untuk pertama kalinya sejak 1967, yang berpotensi menjadi cikal bakal fasilitas pemukim di dalam area masjid.
  3. Ekspansi Ritual Keagamaan: Memperluas pelaksanaan ritual keagamaan Yahudi secara terbuka di area-area sensitif, termasuk di halaman timur dan depan Kubah Sakrah (Dome of the Rock).
  4. Pengambilalihan Otoritas: Mereduksi wewenang Departemen Wakaf Islam Yordania dengan membatasi akses pegawainya, sementara polisi Israel mengambil kendali penuh atas gerbang dan tata tertib kompleks.


Desakan Aksi Nyata dan Peringatan Eskalasi


Al-Quds International menegaskan bahwa prioritas saat ini bukan lagi sekadar mempertahankan aturan lama, melainkan memulihkan kembali kendali atas Al-Aqsa. Lembaga ini mengkritik keras sikap pemerintah negara-negara Arab dan Muslim yang dinilai hanya sebatas mengeluarkan pernyataan kecaman tanpa tindakan konkret.


Yordania didorong untuk secara resmi menyatakan pengakhiran status quo oleh Israel guna memicu langkah diplomasi dan aksi kolektif tingkat tinggi, termasuk penyelenggaraan KTT Islam. Selain itu, perlawanan dan aksi popular rakyat Palestina dinilai menjadi benteng utama dalam mengembalikan daya tangkal (deterrence) di lapangan.


Peringatan Penting:


Lembaga ini memperingatkan adanya potensi eskalasi besar-besaran yang jauh lebih parah pada 12 September hingga 3 Oktober 2026. Periode tersebut bertepatan dengan musim hari raya Yahudi dan momentum kampanye pemilu di Israel, yang dikhawatirkan akan dimanfaatkan untuk mempercepat proses Yahudisasi kawasan Al-Aqsa secara menyeluruh.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya