Anak-Anak Gaza Memulai Tahun Ajaran Baru di Bawah Reruntuhan Sekolah dan Tenda Pengungsian
16 Sep 2026 - Berita
Anak-anak di Jalur Gaza kembali mendatangi titik-titik belajar di tengah situasi yang jauh dari kata normal. Wakil Ketua Persatuan Guru di Gaza, Muhammad Abu Jasser, menegaskan bahwa proses pendidikan yang dimulai pada pertengahan September 2026 ini berlangsung di bawah bayang-bayang kehancuran total akibat genosida Israel yang secara sistematis.
Abu Jasser membeberkan bahwa fasilitas pendidikan di Gaza tidak dapat diukur dengan standar konvensional. Sekitar 70% gedung sekolah telah hancur total, sementara sisa 30% bangunan yang masih berdiri terpaksa difungsikan sebagai pusat pengungsian masif bagi puluhan ribu keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
Kementerian Pendidikan menetapkan pembukaan kembali kegiatan belajar mengajar dengan mengandalkan "titik-titik pendidikan" (educational points) berupa karafat, tenda-tenda darurat, dan halaman sekolah tersisa. Penundaan jadwal sebelumnya terjadi akibat kendala logistik parah serta cuaca ekstrem yang membakar di dalam tenda pengungsian.
Terdapat kelangkaan fatal pada ketersediaan buku, kertas, alat tulis, dan sarana dasar pembelajaran akibat pembatasan ketat dan blokade pintu masuk bantuan oleh Israel.
Para guru terpaksa mengajar dalam kondisi psikologis dan ekonomi yang sangat rapuh. Banyak di antara mereka yang kehilangan anggota keluarga, rumah, serta hidup berpindah-pindah di kamp pengungsian, namun tetap hadir setiap pagi untuk merawat asa anak-anak Gaza.
Perjalanan murid dan guru menuju titik belajar harian diwarnai ketakutan akibat gempuran udara serta serangan drone Israel yang masih mengintai, menjadikan hak atas pendidikan sebagai perjuangan bertaruh nyawa.