Aziza, Fahd, dan Rital: Kisah Anak-Anak Gaza yang Yatim Piatu dan Ketabahan Seorang Nenek di Tengah Runtuhnya Sebuah Keluarga
26 Sep 2026 - Berita
(28/8) Kedatangan tiga anak kecil bersimbah darah di Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza Utara, tanpa didampingi satu pun anggota keluarga, menjadi potret pilu runtuhnya sebuah tatanan keluarga Palestina akibat genosida Israel.
Tiga bersaudara tersebut, Aziza (5 tahun), Fahd (7 tahun), dan Rital (2 tahun). Mereka sempat terdaftar sebagai pasien tanpa identitas selama beberapa jam, sebelum nenek dari pihak ibu, Nesreen Abu Shaqfa, tiba di hospital dan mengenali cucu-cucunya.
Laporan mendalam Al Jazeera menyingkap bagaimana genosida Israel secara sistematis memutus seluruh mata rantai pelindung tiga bocah tersebut:
Ahmed Abu Shaqfa (30 tahun) syahid pada Juli 2024 setelah dihantam bom udara Israel saat berjuang mengantre bantuan makanan di Beit Lahia demi memberi makan anak-anaknya. Tak berhenti sampai disitu, paman mereka, Amjad, bernasib sama dengan Ahmed, syahid ditembak saat mencari bantuan pangan di Rafah. Dua paman lainnya, Muhammad dan Ahed, diculik dan dipenjara militer Israel sejak Oktober 2024.
Lalu, bibi mereka, Heba, syahid pada Juni 2026 akibat tembakan kapal perang Israel saat tertidur di dalam tenda pengungsian di Jalan Al-Rasheed. Kakek dari pihak ayah dan ibu juga syahid dalam serangan terpisah.
Tragedi RS Yemen Al-Saeed dan syahidnya sang Ibu (Juli 2026), Nour, bersama ayahnya, Jamil, ketika jet tempur Israel membombardir lantai satu RS Yemen Al-Saeed di Kamp Jabalia. Ketiga anaknya terluka parah, Rital mengalami luka tembak pecahan bom (shrapnel) hingga menembus tengkorak dan otak.
Kini, Nesreen Abu Shaqfa yang juga kehilangan suami dan putrinya, memikul beban berat merawat 3 cucu yatim piatu yang terluka parah di dalam RS Al-Shifa. Tanpa adanya sumber penghasilan maupun pencari nafkah yang tersisa, Nesreen harus mengurus jadwal operasi, perobatan, dan kebutuhan sehari-hari ketiga cucunya sendirian.
"Kondisi kami saat ini sangat buruk. Tidak ada pencari nafkah maupun sumber uang. Beban di pundak saya sangat berat merawat tiga anak yatim yang terluka, dan saya tidak tahu bagaimana bisa terus memenuhi kebutuhan mereka baik di dalam maupun di luar rumah sakit," ungkap Nesreen.
Juru Bicara Kementerian Pembangunan Sosial di Gaza, Aziza Al-Kahlout, mengonfirmasi bahwa kasus keluarga Abu Shaqfa adalah satu dari puluhan ribu tragedi serupa. Lebih dari 65.000 anak di Gaza menjadi yatim sejak genosida Israel meletus pada 2023. 54.468 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka. 16.798 anak kini terpaksa diasuh oleh kakek atau nenek mereka yang juga hidup dalam keterbatasan ekstrem dan trauma perang.
Hingga saat ini, belum ada sistem jaminan sosial atau panti asuhan institusional yang mampu menampung seluruh korban secara penuh. Kebanyakan anak bergantung pada bantuan personal atau sisa kerabat yang selamat.