Bagi Pengungsi Gaza, Kembali ke Rumah Berarti Kembali ke Sumber Trauma
23 Oct 2025 - Berita
Tak ada lagi yang tersisa bagi orang-orang di sini. Salah satu ciri khas bagi ratusan ribu warga Palestina yang kembali ke Kota Gaza dan wilayah utara Jalur Gaza bukanlah lagi kehidupan; melainkan perjuangan berat untuk bertahan hidup.
Dalam konteks ini, bertahan hidup bukan berarti hidup. Melainkan bertahan. Melainkan bernapas di tengah reruntuhan tempat yang dulunya rumah, setelah dua tahun pemboman tanpa henti yang meluluhlantakkan seluruh lingkungan dan meninggalkan tanah yang terluka dan sunyi.
Saat keluarga-keluarga kembali, banyak yang berjalan menyusuri jalan-jalan yang terkubur reruntuhan. Yang lain berkendara perlahan melewati rumah-rumah mereka yang dulu, kini hanya kerangka beton, atap runtuh, dan baja yang hancur. Beberapa tidak menemukan apa pun selain jejak samar di mana tembok mereka dulu berdiri. Bagi banyak orang, bahkan gagasan mendirikan tenda darurat pun terasa mustahil; tidak ada tanah kokoh yang tersisa untuk mendirikannya. Mereka yang berhasil sering kali melakukannya di tengah jalan, terus-menerus menghadapi risiko dari beberapa mobil yang melintas di reruntuhan.
Anak-anak berkeliaran di antara puing-puing, mencari serpihan masa lalu mereka, pot, tas sekolah, foto keluarga, apa pun yang dapat menghubungkan mereka dengan kehidupan yang sudah tak ada lagi. Suara tangan kecil mereka yang bergerak di antara puing-puing adalah satu-satunya gerakan di kota yang terasa seperti mati.
Seminggu setelah gencatan senjata, warga Palestina yang kembali ke Gaza tidak menemukan rumah mereka, melainkan kuburan kenangan mereka. Namun mereka kembali. Terlepas dari kehilangan, terlepas dari kelaparan dan ketakutan, mereka menolak untuk dihapus dari tanah mereka.
Bagi banyak orang, apa yang menanti mereka sungguh tak terbayangkan. Jalan-jalan pesisir di utara kota dipenuhi ratusan orang, keluarga-keluarga berjalan dengan barang-barang yang sedikit yang berhasil mereka bawa selama pengungsian demi pengungsian. Para ibu memeluk erat anak-anak mereka, para ayah menyeret koper-koper rusak, dan para lansia bersandar pada tongkat atau satu sama lain.
Sesampainya di permukiman mereka, guncangan menghantam mereka bagai tembok. Wilayah utara telah rata dengan tanah. Rumah, sekolah, masjid, semuanya rata dengan tanah, tak dikenali lagi. "Setibanya di Sheikh Radwan," kata seorang ayah, "saya berharap menemukan rumah saya masih berdiri, tetapi yang saya temukan justru sebaliknya. Semuanya rata dengan tanah. Saya bahkan tak bisa membedakan di mana rumah saya dulu berdiri. Puing-puing setiap rumah bercampur aduk. Kehancuran di sini sungguh tak terbayangkan."
Ia dan keluarganya duduk di antara reruntuhan, air mata mengalir pelan. "Kami kehilangan kenangan selama empat puluh tahun," katanya. "Rumah ini tak dapat diperbaiki lagi. Tak satu pun pilar beton yang utuh. Bahkan batu-batunya pun hancur. Rasanya seperti bom nuklir menghantam tempat ini."
Bagi banyak keluarga, kehancuran tersebut membuat mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit: tetap tinggal di tengah reruntuhan atau kembali ke selatan ke kamp-kamp yang penuh sesak, di mana makanan, air, dan perawatan medis sangat langka. Namun, terlepas dari segalanya, sebagian besar memilih untuk tetap tinggal, membangun kembali kehidupan mereka di atas tanah yang sama yang telah mengubur masa lalu mereka.
Listrik, air bersih, dan layanan kesehatan hampir tidak ada. Jalan-jalan masih tertutup puing-puing rumah, dan sekolah-sekolah yang dulunya bergema dengan tawa anak-anak kini hanya tinggal tulang belulang. Namun di tengah semua ini, ada sesuatu yang tak terputus, keterikatan yang kuat pada tanah, pada hak untuk hidup di tempat generasi-generasi sebelumnya pernah hidup.