Buaya-buaya Ben Gvir Adalah Senjata Baru untuk Sandera Palestina dalam Penjara Israel
30 Jul 2026 - Opini
Oleh: Joseph Massad
(30/7) Pengumuman rencana penggunaan buaya Nil sebagai benteng pengawasan tambahan di sekitar fasilitas penjara Israel, seperti penjara Ketziot di Gurun Naqab, menjadi sorotan publik internasional. Kebijakan ini mencerminkan pola panjang bagaimana lingkungan hidup dan satwa dimobilisasi dalam dinamika penjajahan wilayah di Palestina.
Sejak berdekade lalu, penggunaan instrumen non-manusia dan manipulasi ekosistem telah menjadi bagian dari strategi kontrol teritorial dan dominasi sosial:
Penggunaan anjing pelacak dan penyerang dalam operasi genosida Israel serta penanganan sandera telah lama didokumentasikan oleh berbagai organisasi hak asasi manusia internasional. Institusi seperti unit Oketz memanfaatkan satwa yang dilatih khusus untuk menciptakan tekanan psikologis dan intimidasi fisik terhadap warga sipil.
Pembongkaran ruang hidup warga tidak hanya terjadi melalui jalur hukum dan militer, tetapi juga lewat intervensi ekologis. Pelepasan babi hutan di dekat pertanian warga Palestina di Tepi Barat, misalnya, berulang kali merusak mata pencaharian, tanaman pangan, dan ternak tanpa opsi perlindungan yang memadai.
Hancurnya infrastruktur pertanian di Gaza dan Tepi Barat berdampak langsung pada kelangsungan hidup satwa ternak, seperti keledai, kuda, dan sapi yang menjadi tulang punggung transportasi dasar serta distribusi bantuan kemanusiaan warga Palestina.
Retorika yang merendahkan derajat kemanusiaan pihak lain (dehumanizing rhetoric) sering kali menjadi pembenaran atas perlakuan keras Israel di lapangan. Ketika populasi Palestina dilabeli dengan istilah-istilah yang mengasingkan martabat mereka, batasan etis dalam penggunaan metode pengawasan dan penahanan menjadi makin kabur.
Pendekatan ini menunjukkan paradoks yang nyata, ketika hukum perlindungan satwa diterapkan secara ketat untuk spesies tertentu atas nama konservasi, standar perlindungan dan hak-hak mendasar bagi manusia di wilayah Palestina yang dijajah Israel justru terus diabaikan.
Politik ekologi dan eksploitasi satwa ini menegaskan bahwa penjajahan Israel di Palestina adalah upaya sistematis untuk mengontrol seluruh ruang hidup, mulai dari tanah, udara, hingga ekosistem yang ada di dalamnya.