Cara Netanyahu Menjadikan Darah Gaza Sebagai Bahan Bakar Pemilu Demi Amankan Kekuasaan
21 Sep 2026 - Berita
(14/9) Ditengah meningkatnya intensitas pemboman udara dan perluasan invasi darat Israel di Jalur Gaza, perhatian publik internasional terfokus pada cara Netanyahu, memanfaatkan tumpahan darah warga sipil Palestina sebagai komoditas kampanye politik menjelang Pemilu Knesset pada 27 Oktober mendatang.
Di Gaza, ekskalasi militer melumat seluruh blok permukiman di Kamp Al-Shati dan memaksa puluhan ribu keluarga melakoni pengungsian berulang. Direktur Jaringan Organisasi Masyarakat Sipil (PNGO), Muhammad Salha, mengonfirmasi bahwa 77% warga Gaza kini bertahan di tenda-tenda darurat yang minim fasilitas akibat pemblokiran sengaja atas bantuan logistik dan bahan perlindungan oleh Israel.
Analis dan pengamat politik melihat adanya dua dimensi saling terkait antara genosida Israel di Gaza dan krisis politik internal Israel.
Analis pertama, yakni Escape Forward dan Penciptaan "Kemenangan Semu". Pakar Urusan Israel, Muhammad Halsa, menegaskan bahwa Netanyahu, yang berstatus buronan Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) sedang melakukan aksi "melarikan diri ke depan". Karena gagal melumpuhkan perlawanan Palestina secara strategis, Netanyahu memilih membumiharuskan kawasan pengungsian dan fasilitas kesehatan Jalur Gaza demi memamerkan narasi "kemenangan mutlak" (overwhelming victory) kepada para pemilih sayap kanan ekstrem (far-right).
Kedua, untuk memuaskan koalisi ekstremis dan mengunci suara. Eskalasi brutal ini menjadi satu-satunya alat perekat bagi Netanyahu untuk mencegah runtuhnya koalisi pemerintahannya yang paling kanan dalam sejarah Israel. Menargetkan tenda pengungsian dipoles oleh media-media internal Israel sebagai bukti "ketegasan Israel", sekaligus upaya mengimbangi kekalahan Netanyahu dalam jajak pendapat (polling) terbaru Channel 12 yang menunjukkan blok oposisi masih unggul atas blok kepemimpinannya (57 kursi berbanding 52 kursi).
Analisis terakhir, "genosida berstruktur" sebagai taktik lapangan. Analis Politik Eyad Al-Qarra menambahkan bahwa pemboman intensif Israel di area pengungsian padat dan penghancuran sistem medis secara menyeluruh adalah tindakan terencana untuk memusnahkan syarat-syarat kehidupan (conditions of life) di Jalur Gaza. Kebutuhan politik elektoral Netanyahu ditransformasikan di lapangan menjadi kejahatan genosida sistematis dan pembersihan etnis (ethnic cleansing).
Pada akhirnya, derita jutaan warga Gaza yang terus terancam kelaparan dan pengeboman diposisikan sebagai sekadar "bahan bakar" bagi mesin politik Netanyahu demi menyelamatkan dirinya dari jeratan hukum serta kekalahan pemilu yang membayanginya.