Dampak Genosida Israel di Gaza Terhadap Anak-anak Autisme

Dampak Genosida Israel di Gaza Terhadap Anak-anak Autisme

02 Aug 2026 - Berita

(2/8) Penderitaan anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder) dan penyandang disabilitas di Jalur Gaza semakin memprihatinkan. Kehancuran pusat-pusat rehabilitasi dan terputusnya layanan terapi serta pendidikan akibat serangan Israel selama hampir dua tahun telah menyebabkan banyak dari mereka kehilangan keterampilan dasar yang telah dipelajari dengan susah payah sebelum perang. Para ahli dan keluarga memperingatkan bahaya pengabaian terhadap kelompok ini, sedangkan beberapa pusat rehabilitasi tersisa yang masih beroperasi kini terancam tutup total.


Pihak pengelola "Pusat Pendidikan Khusus Palestina" (Palestine Center for Special Education) menceritakan kepada Al Jazeera Mubasher bahwa lembaga mereka yang didirikan pada tahun 2021 dan dulunya dilengkapi berbagai fasilitas untuk melayani anak-anak berkebutuhan khusus telah hancur total akibat dibom Israel.


Bahkan mantan direktur pusat tersebut, Arij Abu Sultan, syahid akibat diserang Israel. Sebelum syahid, Arij sempat melanjutkan sesi terapi untuk anak-anak secara mandiri di lokasi-lokasi pengungsian, sekolah darurat, dan tenda-tenda, karena menyadari bahaya besar jika terapi terhenti dalam jangka panjang.


Pada awal tahun 2026, beberapa staf yang tersisa berinisiatif secara mandiri membuka kembali pusat baru dengan fasilitas yang sangat terbatas, tanpa gedung yang memadai maupun peralatan khusus yang pernah mereka miliki sebelum perang.


Sayangnya, pusat rehabilitasi ini menyediakan layanan terapi wicara (speech therapy), fisioterapi (physical therapy), dan terapi okupasi (occupational therapy) untuk anak-anak berkebutuhan khusus berusia 4 hingga 14 tahun. Namun, para pengelola menegaskan bahwa kebutuhan riil di Gaza jauh melampaui kapasitas satu lembaga saja, dan mereka mendesak pembentukan pusat-pusat serupa di wilayah Tengah, Selatan, serta area Gaza lainnya.


Lembaga ini sendiri terancam gulut tikar akibat ketiadaan dana dan lembaga penyokong. Di saat titik-titik pembelajaran darurat untuk anak-anak non-disabilitas mulai bermunculan, anak-anak berkebutuhan khusus justru tetap terabaikan tanpa layanan khusus.


Beberapa kisah anak autisme di Gaza, seperti Randa Sha'ath, nenek dari anak bernama Nabil Salim Al-Nazli (penderita gangguan saraf akibat aktivitas listrik berlebih di otak/epilepsi), menceritakan bahwa cucunya sempat menjalani terapi selama 3 tahun sebelum genosida. Namun, jeda selama dua tahun membuat kondisinya merosot drastis seolah-olah ia tidak pernah menerima terapi sebelumnya.


Selain trauma psikologis berat, keluarga juga kesulitan mendapatkan obat-obatan mendasar. Ayah Nabil harus menghabiskan waktu berjam-jam berpindah antar rumah sakit demi mencari obat cair Depakine (sodium valproate), karena anak tersebut tidak bisa menelan tablet. Hingga kini, sirup obat tersebut tidak tersedia di Gaza, sementara pemecahan dosis tablet sukar dilakukan secara akurat.


Lalu, seorang pengajar di pusat tersebut menyebutkan bahwa anak-anak dengan autisme, Down Syndrome, dan kesulitan belajar (learning disabilities) tiba di pusat baru dalam kondisi kemunduran pesat (regression). Mereka menunjukkan gejala hiperaktivitas (hyperactivity) dan gangguan konsentrasi yang parah.


Pusat terapi kesulitan menjalankan program karena langkahnya alat bantu edukasi dan mainan terapi akibat blokade yang melarang masuknya barang-barang tersebut ke Gaza. Para guru mendesak lembaga internasional untuk memberi perhatian pada kelompok yang paling terpinggirkan ini.


Terakhir ada, Ittaf Khalil Ashour, ibu dari Muhammad Hussam Ashour yang mengidap autisme dan hiperaktivitas, mengungkapkan bahwa anak-anak kehilangan rutinitas harian yang sangat penting bagi stabilitas emosi mereka. Muhammad mengalami kemunduran drastis dalam perilaku dan pemahaman kognitif.


Ittaf sendiri mengidap penyakit otak serius dan membutuhkan rujukan medis ke luar negeri. Dengan rumah yang telah hancur dan harus menumpang di rumah kerabat suami, beliau menghadapi beban ganda, mengurus penyakitnya sendiri sekaligus mendampingi anaknya. Beliau berharap bisa mendapatkan rujukan berobat ke luar negeri sambil membawa serta anaknya agar bisa memperoleh perawatan medis dan rehabilitasi yang layak.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya