Dokter di Gaza Waspadai Munculnya Leptospirosis di Kamp Pengungsi
Dokter di Gaza Waspadai Munculnya Leptospirosis di Kamp Pengungsi

Dokter di Gaza Waspadai Munculnya Leptospirosis di Kamp Pengungsi

04 Jan 2026 - Berita

Para tenaga medis di Jalur Gaza membunyikan alarm atas munculnya leptospirosis, penyakit bakteri yang terdeteksi di kamp-kamp pengungsi Palestina. Temuan ini muncul di tengah kondisi Gaza yang terus terbebani perang, runtuhnya sistem kesehatan, serta degradasi lingkungan yang parah.

Penyakit tersebut teridentifikasi setelah sejumlah pengungsi mengalami infeksi serius di wilayah yang terdampak banjir, air tercemar, dan meluasnya populasi tikus. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu gelombang epidemi baru yang mengancam ribuan keluarga pengungsi.

Direktur Bantuan Medis di Gaza, Bassam Zaqout, mengonfirmasi bahwa lima kasus leptospirosis telah tercatat secara resmi di Gaza selatan. Empat pasien di antaranya masih dirawat di unit perawatan intensif, menunjukkan tingkat keparahan penyakit yang tinggi.

Dalam pernyataan persnya, Zaqout menjelaskan bahwa kecurigaan terhadap leptospirosis muncul setelah banjir pada November lalu, ketika air hujan bercampur dengan air limbah akibat rusaknya infrastruktur sanitasi. Situasi tersebut diperparah oleh meningkatnya populasi tikus, yang menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran penyakit berbasis air.

Ia menjelaskan bahwa leptospirosis menyebar melalui bakteri yang berasal dari urin tikus terinfeksi dan mencemari genangan air. Penularan terjadi ketika bakteri masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka, retakan kulit, atau selaput lendir mata dan mulut. Anak-anak, perempuan, dan lansia disebut sebagai kelompok paling rentan.

Gejala penyakit ini muncul secara tiba-tiba, antara lain demam tinggi, nyeri otot dan tulang yang hebat, serta peradangan dan kemerahan pada mata. Pada tahap lanjut, pasien dapat mengalami komplikasi serius seperti kulit dan mata menguning, yang sempat membuat tim medis menduga adanya hepatitis virus.

Zaqout menambahkan bahwa sebagian pasien memang memiliki riwayat hepatitis sebelumnya, sehingga dokter melakukan pemeriksaan lanjutan yang kemudian memastikan leptospirosis sebagai penyebab utama. Ia menegaskan bahwa penyakit ini tidak menular antar manusia, namun kondisi lingkungan Gaza saat ini sangat meningkatkan risiko munculnya kasus baru.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Dr. Munir Al-Barsh, memperingatkan bahwa konflik dan blokade yang berkepanjangan telah memperburuk situasi kesehatan masyarakat.

“Kami menghadapi ancaman kesehatan yang nyata,” ujar Al-Barsh. Ia menilai penyebaran penyakit akibat air tercemar mencerminkan runtuhnya infrastruktur kesehatan dan lingkungan di Gaza.

Menurutnya, keterbatasan alat uji laboratorium serta kelangkaan obat-obatan dan antibiotik berisiko mengubah jumlah kasus yang masih terbatas menjadi wabah besar yang sulit dikendalikan. Rumah sakit di Gaza, khususnya unit gawat darurat dan ICU, juga dilaporkan beroperasi jauh di atas kapasitas normal.

Al-Barsh memperingatkan bahwa keterlambatan diagnosis dan pengobatan dapat menyebabkan komplikasi berat, seperti gagal ginjal, hepatitis, pendarahan internal, meningitis, hingga kematian pada kasus tertentu.

Otoritas kesehatan juga menyampaikan kekhawatiran atas ancaman penghentian operasional 37 organisasi internasional yang selama ini mendukung sektor kesehatan Gaza. Langkah tersebut dinilai dapat semakin melemahkan upaya pengendalian penyakit dan mendorong wilayah itu ke arah bencana kemanusiaan dan kesehatan yang tak terkendali.

Kementerian Kesehatan Gaza mengimbau warga untuk menjaga kebersihan pribadi, menghindari kontak dengan air tergenang, melarang anak-anak bermain di area banjir, serta memastikan luka terbuka ditutup dan didesinfeksi dengan baik. Mereka juga menyerukan kepada komunitas internasional agar menekan pihak terkait untuk mengizinkan masuknya peralatan medis, alat uji laboratorium, dan bahan rehabilitasi fasilitas kesehatan.

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia dan kerap muncul di wilayah yang terdampak pengungsian, bencana alam, dan perang. Kemunculannya di Gaza menjadi sinyal berbahaya bahwa dampak konflik kini telah berkembang menjadi krisis kesehatan masyarakat serius, yang mengancam nyawa warga sipil, terutama anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya