Film "NAZA" Menguak Sistematisasi Genosida Israel di Gaza Melalui Kesaksian Intelijen Internal

Film "NAZA" Menguak Sistematisasi Genosida Israel di Gaza Melalui Kesaksian Intelijen Internal

01 Oct 2026 - Berita

(14/9) Sebuah gelombang kepanikan dan kemarahan melanda institusi militer serta politik Israel menyusul kemenangan film dokumenter "NAZA" (Noza) yang meraih Special Jury Prize pada Festival Film Internasional Venesia ke-83 di Italia.


Film dokumenter yang diproduksi oleh The Guardian serta disutradarai oleh sineas peraih Oscar asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, berhasil mendokumentasikan kejahatan genosida terhadap warga sipil di Gaza melalui kesaksian langsung 24 perwira dari Unit 8200, unit intelijen elit militer Israel.


Istilah "NAZA" merupakan akronim teknis yang digunakan oleh Direktorat Intelijen Militer Israel (Aman) untuk menyebut "kerusakan sampingan" (collateral damage), yakni jumlah estimasi warga sipil Palestina yang "diizinkan" dibunuh dalam satu kali serangan udara Israel.


Film yang didokumentasikan secara rahasia selama tiga tahun di Tel Aviv tersebut menguatkan fakta-fakta kunci.


Militer Israel memanfaatkan sistem kecerdasan buatan (AI-driven systems) untuk mengidentifikasi ribuan warga Gaza yang dicap sebagai anggota perlawanan tingkat rendah. Penyerangan sengaja dilakukan pada malam hari saat target berada di rumah bersama seluruh anggota keluarganya, meski militer mengetahui persis bahwa pemboman tersebut akan membantai seluruh isi rumah.


Melalui peretasan ponsel, personel militer mendengarkan secara langsung percakapan terakhir para target bersama istri dan anak-anak mereka beberapa detik sebelum jet tempur menghantam rumah mereka.


Kesaksian perwira mengonfirmasi adanya perintah langsung untuk membakar kawasan warga sipil yang dijadikan tempat berlindung, serta penembakan warga sipil yang sedang mengantre bantuan pangan.


Keluarnya kesaksian dari dalam tubuh militer Israel meruntuhkan narasi pertahanan diri yang dibangun Tel Aviv, memicu reaksi keras di level tertinggi. Kepala Staf IDF, Eyal Zamir, menggelar rapat darurat di HaKirya (Markas Besar Kementerian Pertahanan) dan memerintahkan Jaksa Militer untuk mengkaji langkah hukum terhadap para pembuat film, membentuk tim pembendung klaim, serta menyelidiki dugaan kebocoran dokumen rahasia.


Menteri Kebudayaan Miki Zohar mengancam akan mencabut kewarganegaraan Yuval Abraham dan Rachel Szor atas tuduhan pengkhianatan (treason). Kantor Netanyahu bersama Kementerian Luar Negeri menggalang kampanye media sosial untuk mendistorsi isi film dan mengklaim "tidak ada genosida di Gaza."


Di tengah ancaman dan tuduhan "fitnah darah" (blood libel), lebih dari 200 sineas Israel menandatangani petisi solidaritas untuk membela Abraham dan Szor dari persekusi dan ancaman pembunuhan.


Para pakar hukum internasional menilai kesaksian dalam film "NAZA" memiliki bobot pembuktian hukum yang sangat vital:

  1. Membatalkan Doktrin "Kesalahan Individual": Profesor Hukum Internasional William Schabas menegaskan bahwa kesaksian para perwira membuktikan adanya niat dan perintah terstruktur untuk membinasakan populasi sipil, mematahkan klaim Israel tentang "kecelakaan operasional."
  2. Bukti Tambahan ICJ & ICC: Temuan dalam film ini menjadi amunisi bukti baru (damning evidence) yang memperkuat gugatan genosida oleh Afrika Selatan di Mahkamah Internasional (ICJ) serta mendukung surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant.

Hingga saat ini, data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat korban jiwa akibat agresi militer dan genosida sejak Oktober 2023 telah melampaui 73.700 jiwa tewas dan lebih dari 174.700 luka-luka, di mana mayoritas korban merupakan anak-anak dan perempuan.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya