Genosida Israel Telah Membekukan Satu Generasi Dokter Muda Gaza
02 Aug 2026 - Opini
Oleh: Shoug Mukhaimar
(2/8) Di balik statistik ribuan korban dan puing-puing bangunan rumah sakit yang rata dengan tanah, terdapat kehancuran senyap yang dampaknya akan membendung masa depan Palestina selama puluhan tahun, yakni pembekuan (freezing) pendidikan dan spesialisasi generasi dokter muda di Gaza.
Kisah Dr. Ahmed Shabat, seorang dokter muda yang terpaksa melakukan tindakan darurat memotong dan menjepit pembuluh darah arteri (vascular surgery) seorang pasien kritis hanya berbekal panduan telepon seluler dari seniornya yang sedang dievakuasi, menggambarkan dengan jelas realitas di lapangan. Mereka terlempar ke garis depan untuk menangani trauma massal sebelum waktunya, sementara jalur pendidikan spesialis mereka terhenti total.
Genosida Israel tak hanya menghancurkan fasilitas medis, tapi juga memutus mata rantai ilmu pengetahuan kesehatan secara eksistensial.
Parahnya, melalui blokade dan penutupan perbatasan yang dilakukan Israel membuat para lulusan kedokteran tidak memiliki akses ke program residensi formal, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Gaza bisa kehilangan calon dokter bedah saraf, ahli onkologi anak, hingga spesialis perawatan intensif untuk masa depan.
Kedokteran dibentuk atas dasar keberlanjutan. Ketika generasi muda terisolasi dan para senior terpaksa mengungsi atau syahid, transfer pengalaman klinis antar-generasi terputus seketika.
Dokter-dokter muda ini belajar di dalam tenda, menempuh ujian di antara reruntuhan universitas, dan bekerja 12 jam sehari di bawah ancaman bom Israel. Namun, keberanian dan kemampuan bertahan (resilience) tidak dapat menggantikan porsi pelatihan klinis bertahun-tahun di bawah pengawasan ahli.
Dunia internasional kerap mengukur dampak genosida dari apa yang hancur seketika dan jumlah korban jiwa harian. Namun, kejahatan jangka panjang dari pengepungan Israel adalah pembunuhan perlahan terhadap potensi manusia (stifling of human potential).