Kehilangan Tiga Putra pada 2023, Bayi 15 Bulan, Zaid, Juga Dibunuh Israel
28 Sep 2026 - Berita
(1/8) Di dalam sebuah kamar kecil di Kamp Pengungsi Al-Bureij, bayi berusia 15 bulan bernama Zaid Nofal tertidur tanpa selimut di dekat jendela terbuka untuk menghindari sengatan panas musim kemarau Gaza. Pada pukul 03.00 dini hari, sebuah bom udara yang dijatuhkan jet tempur Israel menghantam rumah keluarganya, mengubur jasad mungil Zaid di bawah reruntuhan beton.
Ibu Zaid, Fatima Nofal (38 tahun), berdiri terpaku di tengah kepulan debu dan darah. Zaid menjadi putra keempat Fatima yang syahid akibat serangan udara Israel, setelah tiga putranya yang lain syahid dalam satu serangan terpisah pada awal agresi tahun 2023.
Tragedi yang menimpa Zaid membuka kembali luka kelam pada 13 Oktober 2023. Saat itu, Fatima dan keluarganya mengungsi dari Kamp Al-Bureij ke area Al-Sawarha di Al-Zawaida dengan harapan menemukan tempat yang aman. Namun, lokasi pengungsian tersebut dibombardir militer Israel.
Serangan tersebut membunuh putra sulungnya Amin (16 tahun), Hamza (11 tahun), dan bayi mereka yang baru berusia 22 hari, Ahmed.
Hanya Fatima dan dua putri kecilnya yang selamat dalam keadaan luka-luka, sebelum rumah mereka hancur total dan dipaksa mengungsi berulang kali.
Sepuluh bulan setelah kehilangan tiga putranya, Fatima mengandung kembali di tengah genosida. Pada 16 April 2025, beliau melahirkan Zaid. Sebuah peristiwa yang dirayakan seluruh keluarga sebagai keajaiban dan pelipur lara di tengah penderitaan yang panjang.
Fatima sengaja menolak menamai Zaid dengan nama almarhum kakak-kakaknya agar Zaid memiliki takdir dan jalannya sendiri. Zaid tumbuh menjadi kesayangan kedua kakaknya, Baraa dan Lina, yang selalu menunggunya di tangga setiap kali Zaid pulang dari poskesmas.
"Kelahiran Zaid adalah peristiwa paling membahagiakan dalam hidup kami selama genosida Israel berlangsung. Kehadirannya membawa sukacita besar, semua orang menyambutnya sebagai keajaiban kecil yang datang menyinari hidup kami setelah berbulan-bulan dirundung duka dan air mata." ujar Fatima Nofal kepada Middle East Eye.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata diumumkan sejak Oktober 2025 dan rumah mereka sempat dibangun kembali secara darurat, pemboman harian oleh militer Israel terus berlanjut.
Pada malam naas tersebut, Fatima memindahkan Zaid ke dekat jendela agar hembusan angin malam membantu balita itu tertidur. Beberapa menit kemudian, bom menghantam bangunan rumah mereka.
Fatima mengalami luka bakar di kaki, putri sulungnya (Baraa) menderita luka ringan, sementara putri bungsunya (Lina) mengalami trauma kepala berat dan masih dirawat di RS.
Di atas ranjang rumah sakit, Lina terus menanyakan keberadaan Zaid. Fatima belum sanggup memberitahukan kenyataan pahit bahwa adik kecil tercintanya telah tewas.
Zaid menghabiskan seluruh 15 bulan usianya di dalam ruangan tanpa pernah merasakan taman bermain, karena sepupu-sepupunya pun telah gugur dalam serangan udara sebelumnya.
Tragedi Fatima Nofal mencerminkan pembantaian terstruktur Israel terhadap anak-anak di Gaza. Menurut Lembaga Hak Asasi Anak PBB (UNICEF), sedikitnya 260 anak syahid di Gaza sejak gencatan senjata dimulai, yang digambarkan oleh juru bicara UNICEF James Elder sebagai "ilusi gencatan senjata yang kejam dan mematikan" dengan rata-rata satu anak Gaza dibunuh Israel setiap hari.