Keluarga Warga AS Tuntut Akuntabilitas atas Kematian Khamis Ayyad di Tepi Barat

Keluarga Warga AS Tuntut Akuntabilitas atas Kematian Khamis Ayyad di Tepi Barat

02 Aug 2025 - Berita

Keluarga Khamis Ayyad, warga negara Amerika Serikat keturunan Palestina, menyerukan penyelidikan resmi atas kematiannya setelah serangan brutal pemukim Israel di kota Silwad, Tepi Barat yang dijajah. Ayyad, 40 tahun, ayah lima anak dan mantan warga Chicago, gugur pada Kamis pagi setelah pemukim membakar kendaraan di luar rumahnya. Saat ia berusaha memadamkan api, tentara Israel menghadangnya dan menembakkan gas air mata, menyebabkan ia meninggal karena menghirup asap dan gas.

Kematian Ayyad terjadi hanya beberapa minggu setelah Sayfollah Musallet, warga AS berusia 20 tahun, dipukuli hingga gugur oleh pemukim Israel di Sinjil, wilayah terdekat. Hingga kini, tidak ada pelaku yang ditangkap dalam kedua kasus tersebut.

Dalam konferensi pers di Chicago, William Asfour dari Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) menyebut pembunuhan itu sebagai tindakan keji yang memerlukan tanggapan tegas dari pemerintah AS. “Seorang warga negara Amerika terbunuh. Di mana akuntabilitasnya?” ujarnya.

Sepupu korban, Mahmoud Issa, menuturkan bahwa serangan terjadi menjelang fajar. “Mereka membakar mobil-mobil di luar rumahnya. Dia keluar untuk memadamkan api, dan tentara menembakkan gas. Dia meninggal di depan pintu rumahnya,” katanya.

Kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat terus meningkat sejak perang penjajahan di Gaza dimulai pada Oktober 2023. Pemukim bersenjata, sering kali dengan perlindungan tentara, menyerbu desa-desa Palestina, menghancurkan rumah, dan menyerang penduduk dengan impunitas. Pemerintah AS sendiri telah mengakui bahwa beberapa serangan itu tergolong “terorisme,” namun belum mengambil tindakan nyata.

Perwakilan Negara Bagian Illinois Abdelnasser Rashid menyebut kematian Ayyad sebagai bagian dari pola kekerasan kolonial yang semakin mengakar. Ia juga menyerukan pencabutan undang-undang yang menghukum perusahaan karena memboikot Israel, menyebutnya “melindungi kekerasan dan kebrutalan dari pertanggungjawaban.”

Asfour menegaskan bahwa kematian Ayyad bukanlah peristiwa terpisah. “Seorang warga Amerika lainnya terbunuh beberapa minggu lalu. Berapa banyak lagi yang harus gugur sebelum AS melindungi warganya di luar negeri?” katanya.

Catatan menunjukkan bahwa sejak 2022, pasukan dan pemukim Israel telah membunuh sedikitnya sepuluh warga Amerika, tanpa satu pun tuntutan pidana. Sementara itu, seorang remaja warga negara AS berusia 16 tahun, Mohammed Ibrahim, masih ditahan oleh Israel tanpa pengadilan dan tanpa kontak dengan keluarganya sejak Februari, di tengah laporan penyiksaan dan kondisi medis yang memburuk.

Keluarga Ayyad kini menuntut akuntabilitas penuh dari Washington, seraya menegaskan bahwa diamnya pemerintah AS atas kekerasan pemukim dan penjajahan Israel sama saja dengan keterlibatan.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya