Kisah Jurnalis Perempuan Gaza Melawan Genosida Israel Melalui Kata-Kata
26 Sep 2026 - Berita
(24/8) Menjelang peringatan satu tahun gugurnya jurnalis lepas Maryam Abu Daqqa (yang tewas akibat bom udara Israel pada 25 Agustus 2025 dengan meninggalkan putranya, Ghaith), ketangguhan para jurnalis perempuan Palestina di Jalur Gaza kembali menjadi sorotan.
Para wartawati ini tidak hanya bertugas melaporkan kejahatan Israel, tetapi juga harus menanggung trauma mendalam, kehilangan keluarga, hingga mempertaruhkan nyawa dan privasi mereka di lapangan.
Berdasarkan data Serikat Jurnalis Palestina (Palestinian Journalists Syndicate), setidaknya 265 jurnalis syahid di Jalur Gaza, termasuk 27 jurnalis perempuan, sementara sekitar 500 lainnya mengalami luka-luka dan lebih dari 34 wartawan berada di dalam penjara Israel.
Ketiga jurnalis perempuan berbagi kesaksian mendalam mengenai dinamika berat yang mereka hadapi di lapangan.
- Hind Khoudary (Reporter Al Jazeera English), mengorbankan pernikahan karena menolak mengungsi pada awal genosida demi melanjutkan misi jurnalistiknya. Bagi Hind Khoudary, meliput genosida Israel di Gaza adalah bentuk pertanggungjawaban moral yang teramat berat kepada para korban. Hancurnya seluruh infrastruktur Gaza membuat masalah dasar seperti mencari tempat buang air kecil, ketiadaan ruang pribadi, hingga kelelahan ekstrem menjadi siksaan sehari-hari di lapangan.
- Maram Humaid (Al Jazeera English), seorang ibu dan jurnalis senior yang telah bertugas selama 15 tahun, menceritakan penderitaannya bertugas sambil mengasuh bayinya yang baru berusia dua bulan saat genosida meletus. Maram kehilangan ibunya pada 7 Mei 2024 di tengah operasi militer Israel di Rafah. Dalam situasi genting dan perpindahan paksa, beliau bahkan tidak sempat meratapi kematian ibunya atau menerima ucapan duka cita karena harus terus berlari menyelamatkan diri dan melaporkan berita. "Ada suara di dalam diri kami yang menolak untuk menyerah dan memaksa kami untuk terus melangkah," ungkap Maram, yang menilai pembunuhan berturut-turut Israel terhadap jurnalis seperti Maryam Abu Daqqa menunjukkan bahwa wartawan secara sengaja dijadikan target sasaran (targeted targets).
- Yusra Al-Aklouk (Kontributor Al Jazeera Net), seorang jurnalis, ibu dari tiga anak, sekaligus istri dari syahid Osama Al-Zebda yang syahid dalam serangan Israel pada 2021. Yusra memilih bertahan di Distrik Rimal, Kota Gaza, berjalan kaki berjam-jam di Gaza Utara untuk mendokumentasikan krisis kelaparan (famine) dan kehancuran rumah warga. Yusra sengaja menolak tawaran liputan langsung di dalam ruang IGD yang penuh genangan darah dan potongan tubuh, agar emosi dan rasa kemanusiaannya tidak menjadi kebal (numb) akibat pemandangan mengerikan yang berulang. Beliau memilih fokus merangkai kisah-kisah naratif kemanusiaan warga Gaza.
Meski kesepakatan gencatan senjata telah berjalan mendekati tahun pertamanya, ketiga jurnalis perempuan ini menegaskan bahwa penderitaan di lapangan belum berakhir. Para wartawati di Gaza terus membuktikan bahwa di bawah kepungan bom, sensor digital, dan ancaman kematian yang dilakukan Israel. Tapi pena serta suara mereka adalah benteng Sumud (ketahanan) yang tidak akan pernah bisa dibungkam oleh Israel.