Setelah Israel Hancurkan Gaza, Apakah Aku Bisa Kembali ke Rumah?

Setelah Israel Hancurkan Gaza, Apakah Aku Bisa Kembali ke Rumah?

24 Sep 2026 - Opini

Oleh: Bahzad al Akhras


(22/8) Sebuah diskusi akademis rutin di tengah musim panas mengubah cara pandang saya tentang arti sebuah tempat tinggal. Saat seorang penyelia akademis, saya menceritakan kebahagiaannya bisa berkumpul kembali dengan keluarga di tanah airnya, ia menggunakan sebuah frasa yang terus bergema di benak saya, "The privilege of home", privilese memiliki rumah.


Dahulu, memiliki rumah terasa seperti hal yang lumrah dan biasa. Namun, sejak meninggalkan Gaza dan menyaksikan kehancuran tempat tinggal keluarga yang diratakan dengan tanah, frasa itu menjadi pertanyaan eksistensial yang menyayat, Apa sebenarnya arti sebuah rumah? Apa yang terjadi ketika tempat untuk kembali itu tak lagi ada?


Segalanya berubah pada Februari 2024, ketika rumah keluarga kami hancur. Sejak hari itu, saya tidak memiliki rumah lagi. Kehilangan rumah di Gaza lebih dari robohnya dinding beton atau hancurnya perabot. Itu adalah penghapusan tempat yang mengikat ingatan masa kecil, identitas, dan sejarah keluarga. Perjalanan menuntut ilmu ke Inggris kali ini terasa terasing secara psikologis.


Dahulu, rasa rindu kampung halaman (homesickness) terasa manis karena didasari kepastian bahwa di Gaza, keluarga, dan jalanan yang familiar masih berdiri menanti di sana. Hari ini, homesickness menyadarkan kita akan sebuah realitas pahit, bahwa rasa rindu itu sendiri sebenarnya adalah sebuah privilese-privilese yang mengasumsikan rumahmu masih ada.


Dalam teori psikologi, manusia membutuhkan secure base atau pijakan aman untuk menjelajahi dunia. Bagi seorang dewasa, rumah adalah arsitektur psikologis yang memberi keyakinan bahwa sejauh apa pun kita melangkah, ada tempat untuk pulang, beristirahat, dan memulai kembali. Rumah ibarat titik awal busur yang melepaskan anak panah, ia memberi arah dan keberanian untuk terbang jauh.


Ketika orang-orang berujar, "Teruslah melangkah ke depan," nasihat itu sering kali datang dari mereka yang masih memiliki privilese tersebut. Mereka melangkah maju dengan keyakinan tenang bahwa ada pintu yang selalu terbuka di belakang mereka.


Bagi generasi Gaza yang rumahnya telah rata menjadi puing, melangkah maju dilakukan bukan karena memilih arah baru dengan percaya diri, tapi karena tak ada lagi jalan untuk pulang. Inilah luka terdalam dari kehancuran di Gaza.


Pada akhirnya, pertahanan terbesar seorang manusia bukanlah sekadar dinding bangunan, melainkan kepastian jiwa bahwa ia berakar dan memiliki tempat kembali.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya