Yaqoub Al-Atrash: Seniman Palestina yang Menulis Sejarah Lewat Seni Mosaik

Yaqoub Al-Atrash: Seniman Palestina yang Menulis Sejarah Lewat Seni Mosaik

26 Sep 2026 - Berita

(2/9) Dengan ketelitian tinggi dan jemari yang cekatan, seniman rupa Yaqoub Al-Atrash merangkai batu-batu kecil beraneka warna dan ukuran di bengkel kerjanya di Beit Sahour, sebelah timur Bethlehem, Tepi Barat selatan. Menggunakan peralatan manual tradisional untuk mempertahankan keaslian dan daya hidup karyanya, Al-Atrash mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan identitas serta sejarah Palestina melalui seni mosaik.


Bagi Al-Atrash, seni mosaik lebih dari profesi atau hobi, tapi juga medan perlawanan budaya (cultural resistance) dan sarana untuk mengabadikan warisan tanah air yang tak lekang oleh waktu.


Al-Atrash menegaskan bahwa peradaban besar bisa saja lenyap ditelan zaman, namun warisan seninya akan tetap abadi. Seni mosaik adalah sarana otentik untuk memahat sejarah Palestina langsung di atas batu:


"Mosaik adalah batu penjuru yang mengukuhkan sejarah kami di tanah Palestina," ujar Al-Atrash. Beliau mengingatkan bahwa jika seni ini punah, sejarah bangsa yang tertulis pada batu mosaik, seperti Peta Mosaik Palestina di Madaba yang dibuat 1.500 tahun lalu, bisa ikut terancam hilang.


Al-Atrash mendesak pemerintah dan lembaga resmi untuk aktif melestarikan seni mosaik, agar tidak bernasib sama dengan industri warisan budaya lain yang mulai memudar, seperti kerajinan kerang (mother-of-pearl) dan ukiran kayu zaitun. Beliau juga rutin menggelar pelatihan bagi siswa sekolah untuk menanamkan kecintaan pada seni ini sejak dini.


Proses pembuatan satu karya mosaik membutuhkan waktu yang tidak singkat, mulai dari 3 hingga 5 bulan tergantung tingkat kerumitan, ukuran batu, dan detail gambar. Di antara deretan karyanya yang siap dipamerkan, mosaik yang menggambarkan Gereja Tabgha (Church of the Multiplication) di pesisir Danau Tiberias. Lalu ada, portret pahlawan kemanusiaan, relawan medis Razan Al-Najjar, yang syahid ditembak militer Israel di Gaza saat bertugas dalam demonstrasi damai tahun 2018.


Meski mengantongi puluhan penghargaan dan sertifikat apresiasi, Al-Atrash menyuarakan keprihatinannya atas minimnya dukungan materiil dan sarana untuk mendukung kelangsungan hidup para pengrajin mosaik lokal.


"Sertifikat ini tidak memberi makan dan minum. Kami membutuhkan pihak yang menghargai karya kami dan mendukungnya secara nyata. Tidak ada yang datang dengan mudah, semuanya butuh perjuangan," ujarnya.


Palestina sendiri dikenal sebagai rumah bagi karya mosaik tertua dan terluas di dunia, salah satunya Mosaik "Pohon Kehidupan" (Tree of Life) di Istana Hilal Umayyah Hisham bin Abdul Malik di Yerikho, yang menjadi panel mosaik utuh terbesar di dunia.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya