Anak-anak Gaza Sapa Orang Tua Mereka di Indonesia
08 Mar 2026 - Event
Genosida Israel di Jalur Gaza telah meningkatkan jumlah anak yatim mencapai 57.000 sebagaimana dimuat Palestine Chronicle. Jumlah ini melonjak hingga tiga kali lipat dibanding sebelum genosida 7 Oktober 2023. SMART 171 laksanakan pertemuan orang tua asuh dengan anak-anaknya di Gaza kemarin (7/2). Hal ini sekaligus untuk memperingati Hari Anak Yatim Korban Perang Sedunia di hari sebelumnya (6/2).
Lewat layar, satu per satu anak menyapa orang tua asuhnya, menceritakan kehidupan sehari-hari yang kini dijalani tanpa rumah, sulit air dan listrik. Salman Muhammad Jamal Haruh (12) maju pertama. Siswa yang kini duduk di bangku kelas VII ini sudah hafal delapan juz Al-Qur’an. Ia membuka pertemuan dengan melantunkan salah satu surah hafalannya, Ad-Dhuha.
Ada Malak, remaja 16 tahun yang sedang duduk di bangku kelas 12 SMA ini telah menghafal 22 juz Al-Quran. Mayoritas hafalannya itu ia raih justru setelah genosida dimulai 2 tahunan ini. Cita-citanya menjadi pengacara pembela keadilan.
Maram Marwan Abu Ma’ru adalah anak berikutnya. Anak perempuan ini kehilangan ayah di usia 7 tahun, ia kini berusia 9 tahun. Maram gemar menggambar dan kemarin tunjukkan hasil karyanya ke para orang tua asuh. Ia berseloroh “Sebenarnya banyak yang mau ku tunjukkan, tapi sayang sekali hilang waktu rumahku dibombardir.” Orang tua asuh yang mendengar banyak memberikan pujian dan semangat di kolom chat, salah satu berkata ia pasti bisa membuat karya lebih banyak dan lebih indah. Maram menambahkan, “Terima kasih. Saya berharap program ini berlangsung lama” ujarnya.
Sajid Abu Khalud (12) bercita-cita menjadi insinyur agar bisa membangun kembali rumahnya. “Di tenda tidak ada tiang untuk bersandar,” katanya polos, sebelum melafalkan satu hadis tentang kedekatan umat dengan Rasulullah. Umar bin Khatab Syaban Hanisi (14) menyampaikan kebutuhannya akan telepon genggam, satu-satunya alat belajar yang tersisa setelah buku dan bangunan sekolah lenyap. Ada pula Saljaradina (14) yang darinya didapat pov hidup sebagai siswa Gaza, “Kami belajar siang dan sore sebab malam tak ada penerangan. Selain belajar kami mengantre air dan makanan,” katanya sore itu.
Pertemuan ini menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk menyampaikan suara mereka secara langsung kepada orang tua asuh, menjadi pengingat bahwa mereka bukan sekedar angka, melainkan individu dengan mimpi, hafalan, dan masa depan yang sedang diperjuangkan.