BDS & Battle of Narrative: Pelajar Bogor Perkuat Advokasi dan Boikot untuk Palestina

BDS & Battle of Narrative: Pelajar Bogor Perkuat Advokasi dan Boikot untuk Palestina

23 Feb 2026 - Press Release

Bogor, 21 Februari 2026 – Baik Berisik Bogor bersama Bogor Student for Justice in Palestine sukses menyelenggarakan Pelatihan Eksklusif Kedua bertajuk “BDS & Battle of Narrative: Cara Menghantam Penjajahan Lewat Advokasi” di Auditorium Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor. Kegiatan ini dihadiri oleh 35 mahasiswa dan pelajar dari berbagai kampus dan sekolah di Kota Bogor.


Pelatihan ini merupakan pertemuan lanjutan setelah sesi pertama yang membahas 12 Pilar Pertahanan Zionis dan membongkar mesin propaganda Hasbara Project. Pada pertemuan kedua, peserta diajak memperdalam strategi advokasi dan memperkuat gerakan boikot sebagai bagian dari perjuangan non-kekerasan melalui kampanye Boycott, Divestment and Sanctions Movement (BDS).


Materi pertama disampaikan oleh Syauqi Hafiz, Co-Founder Boycott, Divestment and Sanctions Movement (BDS) Movement. Dalam paparannya, Syauqi menegaskan pentingnya konsistensi pelajar dalam melakukan advokasi dan boikot.


“Boikot adalah instrumen perlawanan yang konkret dan terukur. Ini bukan sekadar simbolik, tetapi strategi untuk menekan struktur ketidakadilan. Kita tidak sedang melawan sesuatu yang tak terkalahkan. Zionisme bisa dikalahkan, pernah dikalahkan, dan akan dikalahkan. Karena itu, membela Palestina dan melawan zionisme adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” ujar Syauqi.


Ia juga menekankan bahwa gerakan boikot harus dipahami sebagai bagian dari strategi jangka panjang yang berbasis kesadaran publik dan tekanan ekonomi terhadap pihak-pihak yang terafiliasi dengan praktik penjajahan dan pelanggaran hak asasi manusia.


Sementara itu, Sarah Muthiah Widad, Manajer Edukasi dan Advokasi SMART 171, membawakan materi mengenai prinsip, narasi, dan strategi advokasi dalam gerakan sosial. Ia menjelaskan bahwa advokasi bukan sekadar menyuarakan pesan, melainkan proses strategis yang terorganisir.


“Advokasi bukan hanya tentang berbicara keras, tetapi tentang berbicara dengan strategi. Gerakan sosial lahir ketika pengalaman individu diolah menjadi narasi bersama, diorganisir secara kolektif, dan digunakan untuk menantang narasi dominan yang memengaruhi kebijakan publik,” jelas Sarah.


Sebagai contoh, Sarah mengangkat kisah Hind Rajab—seorang anak Palestina berusia 6 tahun yang menjadi korban kekerasan di Gaza. Kisah Hind menjadi simbol bagaimana pengalaman individu dapat berubah menjadi narasi kolektif yang kuat dalam advokasi kemanusiaan.


“Ketika satu cerita mampu menyentuh nurani publik dan menunjukkan pelanggaran hukum internasional secara nyata, di situlah advokasi menemukan kekuatannya,” tambahnya.


Rangkaian pelatihan tidak hanya berupa pemaparan materi, tetapi juga diskusi kelompok untuk merumuskan framing narasi advokasi. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka, mulai dari penyusunan pesan utama, pemilihan diksi yang kuat dan persuasif, hingga perumusan argumen yang solid dan berbasis nilai untuk mendorong advokasi kepada para pemangku kepentingan (stakeholder). Fokus utama diskusi adalah bagaimana membangun narasi yang tajam, kredibel, dan mampu memengaruhi pengambil kebijakan agar berpihak pada keadilan dan perlindungan hak asasi manusia.


Kegiatan dilanjutkan dengan nonton bareng film The Voice of Hind Rajab, yang menguatkan dimensi emosional dan kemanusiaan dalam perjuangan advokasi. Acara kemudian ditutup dengan pembagian takjil serta flyer edukasi berisi daftar produk yang menjadi target boikot di sekitar Alun-Alun Kota Bogor.


Melalui pelatihan ini, Baik Berisik Bogor dan Bogor Student for Justice in Palestine berharap lahir advokat muda yang tidak hanya berani bersuara, tetapi juga mampu menyusun strategi narasi yang kuat, terarah, dan berdampak dalam memperjuangkan keadilan bagi Palestina.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya

Join Us!