Direktur Utama Smart 171 Bahas Propaganda Hasbara di Forum Perempuan Asia Pasifik

Direktur Utama Smart 171 Bahas Propaganda Hasbara di Forum Perempuan Asia Pasifik

09 Mar 2026 - Press Release

Di tengah derasnya disinformasi soal Palestina yang berseliweran di dunia digital, isu hasbaraalias propaganda buatan Israel benar-benar jadi batu sandungan besar bagi kerja advokasi kemanusiaan. Penjajahannya adalah suatu masalah, perang narasinya adalah satu masalah besar tersendiri. Narasi yang mereka bangun, terus-menerus dan diulang di segala platform, tak cuma membentuk opini publik, tapi juga memengaruhi kebijakan dan sikap masyarakat internasional terhadap kejahatan yang terjadi di Palestina.

 

Topik ini jadi salah satu bahasan utama dalam agenda The Asia Pacific Women's Coalition for Al-Quds and Palestine (ApWCQP). Mereka menghadirkan Direktur Utama Smart 171, Dr. Maimon Herawati, sebagai pembicara.

 

Dr. Maimon menjelaskan cara kerja hasbara sebagai mesin propaganda. Mereka membingkai agresi jadi “pembelaan diri”, mengaburkan fakta penjajahan, dan menggeser fokus dari korban sipil ke narasi konflik horizontal, beberapa masih menyebut perang padahal itu genosida. “Seringkali strategi ini gak hanya menyasar media Barat, tapi juga menembus ruang digital Asia lewat influencer dan berita mainstream. Wartawan kebanyakan berpihak pada kebenaran, tapi karena referensinya seringkali mencatut dari media internasional yang sudah dipengaruhi narasi zionis, sehingga tanpa sadar isi beritanya jadi korban hasbara.” Tungkas Dr. Maimon.

 

Agenda ini juga menyorot peran anak muda sebagai aktor kunci untuk melawan dominasi narasi hasbara. Dr. Maimon membagikan pengalaman nyata dari Indonesia, misalnya membangun gerakan anak muda pro-Palestina lewat komunitas Baik Berisik yang sekarang sudah ada di lebih dari 20 daerah. Pendekatannya bukan cuma soal solidaritas simbolik, tapi benar-benar memakai kerangka kerja terstruktur: edukasi isu, produksi konten, konsistensi pesan, dan pengorganisasian yang berbasis komunitas lokal.

 

Forum ini juga membahas strategi counter-narrative yang bisa diterapkan lintas negara, mulai dari memaksimalkan media sosial, menulis opini di media arus utama, mengirim rilis advokasi berbasis data, sampai kerja-kerja jurnalisme investigatif buat membongkar pelanggaran hukum internasional yang sering ditutupi narasi dominan. Dr. Maimon bilang, perang informasi sekarang menuntut aktivis agar tak hanya vokal, tapi juga presisi, disiplin, dan berbasis bukti.

 

Diskusi di agenda ApWCQP ini menegaskan, advokasi Palestina di Asia Pasifik sekarang sudah nggak lagi pinggiran dalam wacana global. Kapasitas anak muda yang makin kuat, peran media yang sungguh berpihak pada kebenaran, dan kolaborasi netizen bijak, akan membuat ruang publik jadi medan yang lebih seimbang. Agar bisa “voice the voiceless”.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya