Diskusi Geopolitik Soroti Konflik Iran–AS–Israel dan Dampaknya bagi Dunia Islam

Diskusi Geopolitik Soroti Konflik Iran–AS–Israel dan Dampaknya bagi Dunia Islam

07 Apr 2026 - Event

Diskusi daring bertema geopolitik Timur Tengah kembali jadi sorotan, terutama soal hubungan yang makin panas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Menekankan betapa pentingnya kita benar-benar memahami konflik ini. Tak cukup melihatnya dari sisi militer saja, tapi juga harus paham bagaimana kepentingan strategis global ikut bermain.


Diskusi bertajuk “Iran vs AS–Israel: Mau Kemana Umat Islam?” digelar secara daring pada Sabtu, 14 Maret. Dr. Maimon Herawati, Koordinator Dewan Pengarah GPCI, hadir sebagai pembicara utama. Ia bicara panjang soal situasi kemanusiaan di Gaza dan bagaimana konflik geopolitik ini saling berkelindan antara Iran, AS, dan Israel.


Ia juga menegaskan, melihat konflik Timur Tengah hanya lewat kacamata politik atau militer tak akan cukup. Kita perlu menelaahnya dengan analisis sejarah, geopolitik, dan tentu saja kepentingan global yang menyelimuti.


Dr. Maimon menggarisbawahi, perebutan pengaruh di Timur Tengah ini erat kaitannya dengan isu strategis: energi, keamanan regional, dan posisi negara-negara Muslim dalam peta geopolitik global. Jadi, bukan cuma soal siapa lawan siapa, tapi juga siapa yang ambil untung dan berada di posisi tawar kuat.


Dalam diskusi itu, banyak juga pertanyaan yang muncul dari peserta soal bagaimana konflik ini berdampak pada Palestina. Mereka juga membahas langkah apa yang seharusnya diambil umat Islam di tengah berubahnya peta kekuatan global.


Peserta diskusi datang dari berbagai latar belakang mulai akademisi, aktivis, sampai masyarakat umum yang memang peduli alias main bersama pada isu geopolitik dan masa depan dunia Islam.


Sarah Muthia sebagai penyelenggara bilang, forum semacam ini penting sebagai upaya memperkuat literasi geopolitik di masyarakat. Tujuannya jelas: biar kita tak sekadar ikut arus informasi, tapi bisa melihat perkembangan global secara kritis dan membangun.


Meski acara digelar di sepuluh hari terakhir Ramadan, ruang diskusi tetap jalan, karena membuka perspektif terhadap isu-isu strategis dunia Islam itu jadi kebutuhan.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya