Pasca Gencatan Senjata, Krisis Gaza Memburuk dan Minim Perhatian Dunia
07 Apr 2026 - Press Release
Pasca gencatan senjata, krisis kemanusiaan di Gaza tak lantas lebih baik. Malah jadi lebih sepi dari perhatian dunia lantaran mengira genosida berhenti, padahal belum. Warga Gaza masih dilaparkan, bantuan makin seret, gizi anak-anak memburuk, dan hampir semua layanan kesehatan ambruk belum ada perbaikan berarti. Semua ini jadi bahan diskusi di forum update Palestina di kantor Relawan Nusantara, Summarecon Bandung, hari ini (10/3). Agenda yang dihadiri puluhan relawan dan pegiat kemanusiaan itu menghadirkan Dr. Maimon Herawati, Direktur Smart 171 sekaligus ketua Dewan Pengawas Global Peace Coalition Indonesia (GPCI).
Di lapangan, kebutuhan bantuan kemanusiaan di Gaza jauh melampaui kemampuan distribusi yang ada. Dalam keadaan normal saja, wilayah ini butuh sekitar 400 truk bantuan per hari. Setelah perang meluluhlantakkan segalanya, kebutuhannya melonjak jadi 1.000 truk per hari.
Pembicara juga menyoroti gizi anak-anak di Gaza yang benar-benar membahayakan. Di banyak titik pengungsian, makanan yang tersedia cuma berbahan dasar tepung dan gula. Tentu tak cukup untuk memperbaiki kondisi gizi anak-anak kalau situasi ini terus berlangsung.
Sistem kesehatan juga tertekan hebat. Rumah Sakit Al-Shifa, yang selama ini jadi andalan di Gaza, kini nyaris lumpuh karena pasokan obat dan alat medis sangat minim. Di tengah situasi ini, laporan kemanusiaan menyebut lebih dari 2.900 keluarga besar di Gaza kehilangan seluruh anggotanya. Sementara itu, ada lebih dari 9.000 anak hidup tanpa orang tua atau keluarga inti.
Tak hanya soal Gaza, diskusi juga menyinggung isu geopolitik termasuk Iran. Iran telah mendukung Palestina secara luar biasa. Bantuan dari Indonesia tidak ada apa-apanya bila dibandingkan bagaimana Iran membantu Palestina.
Namun begitu, Iran juga bukan negara suci, Bu Maimon berkata, “Memang, Iran bukan saint, apa yang dilakukan Iran terhadap warga Suriah sulit diterima dan tetap harus di bawa ke ICC,” ia kemudian melanjutkan “Tapi Iran memiliki titik berdiri yang sama dengan kita soal Palestina.”
Dari sini diskusi bergulir hidup sampai membahas pentingnya kita semua, masyarakat biasa, bersiap menghadapi krisis global yang bisa berdampak pada kehidupan sehari-hari. Peserta didorong memperkuat ketahanan ekonomi keluarga lewat cara sederhana seperti saling dukung usaha kecil, mulai manfaatkan halaman rumah sekecil apapun untun tanam 3 jenis makanan yang bisa dipanen, dan kelola gaya hidup yang fokus pada kebutuhan pokok.
Dr. Maimon kemudian menambahkan, “Last but not least, Hadirkan Allah dalam setiap aspek Kehidupan”, tutupnya.
Forum yang dihadiri sekitar 48 peserta internal ini jadi ruang refleksi dan penguatan literasi kemanusiaan bagi para relawan. Maimon juga memaparkan update dari rekan NGO di Gaza. Di tengah arus informasi yang membingungkan atau membuat orang berpikir Palestina sudah lebih baik, diskusi seperti ini penting lantaran memberi info aktual dan faktual.