Ratusan Aktivis dari 50 Negara Gagas Tata Kelola GSF di Kuala Lumpur
15 Oct 2026 - Press Release
Semalam (13/10), PM Malaysia Anwar Ibrahim hadir memberi sambutan seremonial dalam penutupan Global Sumud Congress 2026. Selama lima hari dari 9 hingga 13 Oktober, perwakilan aktivis solidaritas Palestina dari seluruh dunia berkumpul di Kuala Lumpur untuk membangun tata kelola gerakan yang bisa bertahan lama.
Global Sumud Congress 2026 adalah kelanjutan langsung dari Global Sumud Flotilla, misi kapal kemanusiaan menembus Gaza. Jika flotilla adalah aksi, kongres ini adalah upaya mengubah aksi itu menjadi organisasi permanen bernama Global Sumud Movement (GSM). Agenda utama kongres yaitu menentukan arah kebijakan bersama seperti Mission, Vision, Values, Startegy, Structure, hingga Action Planning. Berbagai arah gerak inilah yang didiskusikan selama lima hari kemarin.
Lima nilai dasar GSM yang disepakati antara lain ialah Sumud (keteguhan dan resiliensi), Nonviolence (aksi sipil tanpa kekerasan), Integrity (kejujuran dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab), Respect (menghormati identitas, budaya, dan otonomi organisasi anggota), dan Accountability (kekuasaan yang transparan dan bisa dipertanggungjawabkan).
Mustofa Barghoutti (aktivis Palestin), Mohsen Al-Attar (pakar anti-kolonial) menjadi pemateri penting dalam sesi acara kongres. Mustofa Barghoutti dengan keras menyatakan "Israel is repeating Nakba 1948". Ia menekankan bahwa apa yang sedang dilakukan Israel dan illegal settler di Gaza atau Tepi Barat sekarang adalah pengusiran paksa hingga bisa sepenuhnya dikuasai. Selanjutnya, Al-Attar menyampaikan tentang kolonialisme yang punya 3 ciri. Pertama, pembatasan akses terhadap kebutuhan dasar seperti air, makanan, bahkan perpindahan tempat. Kedua, pembatasan terhadap hubungan dan identitas. Ketiga, menentukan kerangka perdebatan atas fakta dan nilai. Ketiga inilah yang terus dilakukan oleh Israel kepada orang Palestina.
Ratusan aktivis yang hadir datang dari Norwegia, Belanda, Afrika Selatan, Tunisia, Filipina, Australia, Mexico, Brazil, dan banyak lainnya. SMART 171 hadir sebagai bagian dari delegasi Indonesia yang tergabung dalam GPCI (Global Peace Coalition Indonesia), dan dalam kongres ini bersuara melalui koalisi Sumud Nusantara bersama Malaysia. Mereka hadir memastikan semua organisasi bernafas solidaritas bisa berpartisipasi di bawah aturan yang adil, transparan, dan tetap menempatkan Palestina sebagai pusat.
“Kami ingin memastikan bahwa semua pihak yang menggalang solidaritas dapat berpartisipasi berdasarkan aturan yang adil, memahami bagaimana mandat dan sumber daya dikelola, serta bekerja sama dengan tetap menempatkan Palestina sebagai pusat gerakan.” Kata Maimon Herawati, SC GSF dari Indonesia.
Kongres ini jadi bukti bahwa gerakan sipil dunia bisa dibuat rapi dan ajeg. Melahirkan aturan-aturan yang benar bisa dipraktikkan di lapangan. Tentu kongres ini bukan akhir, masih banyak yang akan dilakukan termasuk merumuskan rencana aksi 2027 dengan penanggung jawab, anggaran, dan tolok ukur yang jelas.