SMART 171 Gelar Smart Class “Ramadhan Under Israel Blockade”, Hadirkan Kisah Langsung dari Gaza

SMART 171 Gelar Smart Class “Ramadhan Under Israel Blockade”, Hadirkan Kisah Langsung dari Gaza

09 Mar 2026 - Event

Bagi banyak Muslim, Ramadhan biasanya berarti kebahagiaan, kehangatan, dan momen spiritual bersama keluarga. Tapi tahun ini, warga Gaza menjalani kali ketiga Ramadhan dalam bombardir Israel. Meski gencatan senjata masih berlangsung, Israel tetap menyerang Gaza, sampai ada 1500 lebih pelanggaran yang penjajah lakukan. 

 

Kenyataan ini jadi bahan diskusi dalam Smart Class “Ramadhan Under Israel Blockade”. Di kelas ini, peserta tak hanya diajak melihat angka-angka statistik, tapi juga mendengar langsung cerita keseharian gadis Gaza, Basheer Muammar via zoom meeting, mendengar dari manusia yang mengalaminya langsung tentang bagaimana mereka bertahan di tengah keterbatasan dan blokade Israel.

 

“Gaza punya semacam tradisi untuk sambut ramadhan. Kami biasa merogoh kocek untuk membeli dekorasi dan permen wujud merayakan ramadhan. Tapi saat ini kondisinya sulit. Jangankan memikirkan dekorasi, semua sibuk mengamankan makanan dan minuman” Kata Basheer Muammar.

Ia kemudian melanjutkan “Tapi walaupun sulit, beberapa keluarga bersikeras untuk membawa atmosfer kebahagiaan itu ada di bulan ramadhan ini. Beberapa dari mereka mendekorasi tenda mereka untuk membangun kebahagiaan bagi anak-anak mereka”. Basheer Muammar berkata sambil menunjukkan foto-foto keluarga yg mendekorasi tenda mereka.

 

Ibadah tetap berjalan meski serba terbatas. Warga membangun tempat ibadah darurat dari puing-puing. Shalat berjamaah, tarawih, membaca Al-Qur’an, hingga belajar agama tetap mereka lakukan di ruang seadanya. Tapi, buat banyak perempuan, jalanan yang penuh reruntuhan dan pecahan kaca membuat mereka lebih memilih shalat tarawih di tenda masing-masing.

 

Kelas ini juga membahas ekonomi Gaza yang lumpuh karena blokade. Akses makanan dan kebutuhan pokok terbatas, harga-harga berubah liar, bisa turun drastis hari ini, melambung besok. Pasar tetap ada, tapi barang-barang langka dan mahal. Banyak keluarga terpaksa memilih, bertahan hidup atau memenuhi kebutuhan Ramadhan.

 

Masalah listrik juga tak kalah pelik. Seluruh pasokan dipegang Israel. Warga Gaza mengandalkan panel surya untuk penerangan dan internet, tapi itu pun terbatas, sangat tergantung cuaca. Usaha bikin operator listrik sendiri terganjal biaya tinggi dan jangkauan minim.

 

Di tengah semua keterbatasan ini, Ramadhan justru memperkuat iman mereka. Imam Hasan Hania bilang di kelas itu, “Meski kami shalat di atas puing dan batu, tanpa fasilitas layak, justru di situlah harapan tumbuh. Kami yakin suatu hari nanti kami akan shalat bersama lagi di Masjid Al-Aqsha.”

 

Menjelang akhir sesi, ada peserta yang bertanya, apa yang paling dibutuhkan warga Gaza dari masyarakat Indonesia? Jawabannya sederhana: doa. Doa agar penderitaan segera berakhir, agar Ramadhan di Gaza suatu hari bisa kembali dirayakan dengan normal sebagaimana masyarakat dunia menjalaninya.

 

Smart Class ini mengajak peserta melihat Ramadhan dari kaca mata warga Gaza. Di sana, Ramadhan memang tak meriah, tapi tak pernah kehilangan makna. Masyarakat Gaza tetap bersuka cita dan tetap solat tarawih bersama, tak takut apapun.


Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya