Israel Jadikan Air sebagai Alat Penindasan dan Penggusuran Warga Palestina di Tepi Barat
07 Jan 2026 - Berita
Israel menggunakan akses terhadap air sebagai alat kontrol dan penggusuran terhadap komunitas Palestina di Tepi Barat, dengan membatasi kebutuhan dasar dan menekan kehidupan warga sipil. Akibat kebijakan ini, ratusan ribu warga Palestina harus berjuang setiap hari untuk mendapatkan air dalam jumlah minimum demi bertahan hidup.
Data Otoritas Air Palestina menunjukkan bahwa lebih dari 85 persen sumber air Palestina berada di bawah kendali Israel, menjadikan kelangkaan air sebagai masalah struktural dan kronis di wilayah tersebut. Kondisi ini semakin memburuk seiring serangan terhadap infrastruktur air Palestina.
Para ahli menyebut bahwa perusakan sumur, mata air, pipa air, dan stasiun pompa merupakan bagian dari strategi sistematis untuk melemahkan komunitas Palestina dan membuka jalan bagi perluasan permukiman ilegal Israel.
Peneliti urusan pemukiman, Mahmoud al-Saifi, mencatat bahwa tahun 2025 ditandai dengan pertumbuhan pemukim yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hampir 200 kilometer jalan khusus pemukim telah dibangun, sementara populasi pemukim kini mendekati satu juta jiwa yang tersebar di sekitar 700 lokasi pemukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Menurut al-Saifi, ekspansi ini disertai serangan harian pemukim terhadap desa-desa Palestina, yang semakin mempersempit ruang hidup warga setempat.
Pejabat Palestina menjelaskan bahwa pelanggaran terkait air terjadi pada dua level. Pertama, pemukim secara langsung menargetkan infrastruktur air Palestina. Kedua, pembatasan administratif dan keamanan oleh pasukan penjajah Israel mencegah warga Palestina membangun atau mengembangkan sistem air mereka sendiri.
Akibatnya, banyak komunitas Palestina terpaksa membeli air dari perusahaan air nasional Israel, Mekorot. Aktivitas pengeboran dalam yang dilakukan Mekorot di dekat sumber air Palestina menyebabkan penurunan permukaan air tanah dan mengeringkan mata air, bahkan pada musim hujan.
Beberapa contoh dampak nyata terlihat pada sumur Ein Samiya dekat Ramallah yang melayani 19 desa dan sekitar 70.000 orang, serta mata air Al-Auja di Lembah Yordania yang aksesnya terhambat oleh pos-pos pemukiman Israel di sekitarnya.
Di wilayah Bardala dan Susiya, serangan terhadap stasiun pompa dan pipa air, ditambah pemadaman listrik, telah melumpuhkan pertanian serta kehidupan pastoral masyarakat setempat.
Hassan Mleihat dari Organisasi Al-Baidar menyatakan bahwa tindakan-tindakan ini dilakukan secara terkoordinasi antara pasukan penjajah Israel, pemukim, dan perusahaan Mekorot. Ia menggambarkan kebijakan tersebut sebagai bentuk “penggusuran diam-diam” terhadap komunitas Badui Palestina dan masyarakat pedesaan.
Dampak kemanusiaan dari krisis ini sangat parah. Rata-rata konsumsi air warga Palestina hanya 82 liter per orang per hari, jauh di bawah konsumsi warga Israel yang mencapai 247 liter. Di komunitas yang tidak terhubung jaringan air, angka tersebut bahkan turun menjadi hanya 26 liter per hari.
Saat ini, hanya 36 persen penduduk Tepi Barat yang memiliki akses air mengalir setiap hari, sementara mayoritas lainnya bergantung pada tangki air di atap rumah, yang mahal dan tidak selalu tersedia.
Organisasi-organisasi hak asasi manusia memperingatkan bahwa tanpa intervensi internasional yang nyata, kebijakan Israel terkait air akan memperparah penderitaan kemanusiaan dan mempercepat pengungsian paksa warga Palestina, membuat komunitas mereka semakin rentan di bawah penjajahan.