PBB: Pembersihan 71.000 Ton Bahan Peledak di Gaza Bisa Memerlukan Waktu 30 Tahun
16 Feb 2026 - Berita
Dua tahun setelah serangan udara dan darat tanpa henti, Jalur Gaza kini menghadapi ancaman baru: puluhan ribu ton bahan peledak Israel yang belum meledak masih tersebar di antara puing-puing bangunan. Badan-badan PBB dan kelompok kemanusiaan memperkirakan proses pembersihan bisa memakan waktu hingga tiga dekade.
Laporan Gaza Rights Centre (GRC) mencatat sekitar 71.000 ton bahan peledak dan amunisi tak meledak terkubur di bawah 65–70 juta ton puing di seluruh wilayah Gaza. Sekitar 20.000 bom, rudal, dan peluru aktif diperkirakan masih tersembunyi di kawasan permukiman, sekolah, dan fasilitas umum.
Menurut Badan Aksi Ranjau PBB (UNMAS), antara 5% hingga 10% dari senjata yang digunakan Israel gagal meledak, menjadikan Gaza sebagai salah satu zona kontaminasi bahan peledak terpadat di dunia. Seorang pakar menyebut kondisi ini sebagai “ladang ranjau terbuka”.
Nick Orr, spesialis penjinak bahan peledak dari organisasi Humanity and Inclusion, mengatakan pembersihan total bisa memakan waktu 20 hingga 30 tahun. “Tingkat kontaminasinya sangat tinggi dan memerlukan peralatan berat serta sistem keselamatan yang saat ini belum dapat masuk ke Gaza,” ujarnya.
Data Kantor Komunikasi Pemerintah Gaza menunjukkan terdapat rata-rata 58 benda peledak tak meledak per kilometer persegi, dengan konsentrasi tertinggi di wilayah utara seperti Beit Lahia, Beit Hanoun, dan Jabalia. Sekitar 3.000 ton UXO diperkirakan menumpuk di wilayah itu saja.
Sementara itu, OCHA melaporkan bahwa kamp-kamp pengungsi di Gaza tengah, termasuk Nuseirat, Maghazi, dan Deir al-Balah, masih terkontaminasi sekitar 1.500 ton UXO. Ledakan dari sisa-sisa persenjataan di area tersebut telah menewaskan dan melukai sedikitnya 25 orang sejak awal tahun.
Secara keseluruhan, lebih dari 53 warga Gaza tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat ledakan bom tak meledak sejak berakhirnya pertempuran besar terakhir, menurut data PBB. Banyak korban merupakan warga sipil yang kembali ke rumah mereka tanpa mengetahui adanya bahan peledak di bawah reruntuhan.
Para ahli memperingatkan bahwa sekitar 7.000 ton bahan peledak aktif masih terkubur di berbagai wilayah, terutama di bawah bangunan yang hancur. Tanpa dukungan internasional dan izin masuk bagi tim penjinak ranjau, bahaya ini diperkirakan akan terus mengancam selama puluhan tahun.
“Setiap langkah di Gaza kini bisa berakibat fatal,” kata Orr. “Kami tidak hanya membersihkan bom, tapi berusaha memulihkan hak warga Gaza untuk hidup dengan aman.”