Pemukim Ilegal Tembak Warga Palestina Hingga Syahid
19 Feb 2026 - Berita
Seorang pemuda Palestina gugur dan empat lainnya terluka akibat sekelompok pemukim Israel, yang didukung oleh pasukan Israel, menembak ke desa di Tepi Barat yang dijajah, semalam (18/2).
Kepergian pemuda yang diidentifikasi sebagai Nasrallah Abu Siyam itu menandai pembunuhan pertama warga Palestina menggunakan senjata api secara langsung oleh pemukim Israel sdi tahun 2026 sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Palestina, Wafa.
Saat menyerang Desa Mukhmas di timur laut Yerusalem Timur yang diduduki, para pemukim Israel dilaporkan juga mencuri puluhan ekor domba milik warga Palestina setempat.
Mu’ayyad Sha’ban, Kepala Komisi Kolonisasi dan Perlawanan Tembok Otoritas Palestina, mengatakan kepada Wafa bahwa serangan terhadap Mukhmas serta kota dan desa Palestina lainnya merupakan bentuk eskalasi berbahaya dari terorisme yang dilakukan secara sistematis. Ia menilai hal itu mencerminkan kerja sama penuh antara para pemukim dan pasukan pendudukan Israel.
Sha’ban menyerukan perlindungan internasional bagi komunitas Palestina. Ia menyebutkan bahwa sejak Oktober 2023, para pemukim telah membunuh 37 warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Meski demikian, ia menegaskan bahwa meningkatnya kekerasan tidak akan mematahkan tekad warga Palestina untuk mempertahankan tanah mereka.
Menurut laporan, Desa Mukhmas dan komunitas Badui Khallat al-Sidra di sekitarnya telah berulang kali menjadi sasaran serangan pemukim Israel, yang kerap terjadi dengan perlindungan atau kehadiran langsung pasukan Israel.
Pemerintah Provinsi Yerusalem, salah satu dari 16 wilayah administratif Palestina, dalam pernyataannya menyebut pembunuhan seorang pemuda oleh pemukim Israel sebagai “kejahatan murni” yang dilakukan di bawah perlindungan dan pengawasan pasukan pendudukan Israel.
Pemerintah daerah tersebut menilai serangan itu sebagai bagian dari gelombang kekerasan berbahaya oleh pemukim di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur. Kekerasan ini ditandai dengan penggunaan peluru tajam, penembakan langsung terhadap warga Palestina, pembakaran rumah, perusakan kendaraan dan properti, serta perampasan lahan.
Disebutkan pula bahwa kekerasan bersenjata oleh para pemukim mendapat dukungan dari “tokoh-tokoh penting dalam pemerintahan Israel”, khususnya menteri sayap kanan Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, menurut laporan Wafa.
Data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menunjukkan bahwa sejak 2023, lebih dari 1.000 warga Palestina tewas akibat serangan pasukan Israel dan pemukim di Tepi Barat, sementara lebih dari 10.000 orang terpaksa mengungsi.
Sejak awal tahun ini saja, hampir 700 warga Palestina dari sembilan komunitas telah terusir akibat serangan pemukim. Termasuk di antaranya sekitar 600 warga komunitas Badui Ras Ein al-Auja di Provinsi Jericho, menurut OCHA.
Pada awal pekan ini, pemerintah Israel menyetujui rencana untuk menetapkan sebagian besar wilayah Tepi Barat yang diduduki sebagai “tanah milik negara” Israel. Kebijakan ini memindahkan beban pembuktian kepemilikan tanah kepada warga Palestina, dalam situasi yang sudah lama berlangsung di mana Israel membuat pengurusan sertifikat kepemilikan tanah hampir mustahil.
Keputusan tersebut, yang dipandang sebagai bentuk aneksasi de facto atas Tepi Barat, menuai kecaman luas dari komunitas internasional karena dianggap sebagai eskalasi serius yang merusak hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri.
Upaya perampasan tanah dan pembunuhan oleh pemukim ini terjadi di tengah meningkatnya operasi militer Israel di seluruh Tepi Barat yang diduduki. Pasukan Israel dilaporkan mengintensifkan penggerebekan, melakukan penggusuran paksa, menghancurkan rumah-rumah warga, serta menjalankan berbagai tindakan represif lainnya di sejumlah wilayah.