Menteri Israel: Gaza Bagian dari Israel, Bangun Kembali Pemukiman
22 Jul 2026 - Berita
Menteri Pemukiman Israel, Orit Strook, pada hari Senin menyerukan pembangunan kembali pemukiman di Jalur Gaza, dengan mengklaim bahwa wilayah tersebut merupakan "bagian dari Tanah Israel."
Lembaga penyiaran publik Israel mengutip pernyataan Strook yang mengatakan, "Orang-orang Yahudi harus tinggal di Jalur Gaza, dan tuntutan untuk membangun kembali pemukiman Yahudi adalah tuntutan yang benar."
Ia mengklaim bahwa Gaza adalah bagian dari "Tanah Israel" tidak hanya menurut Taurat dan halakhah (hukum Yahudi), tetapi juga di bawah hukum internasional.
Pernyataan Strook disampaikan sehari setelah beberapa menteri pemerintah Israel bergabung dalam aksi jalan kaki ribuan pemukim melalui zona militer tertutup menuju perbatasan Gaza untuk mendukung pembangunan kembali pemukiman di wilayah tersebut.
The Times of Israel melaporkan bahwa aksi tersebut diikuti oleh ribuan peserta dan diadakan untuk memperingati 21 tahun evakuasi blok pemukiman Gush Katif dari Gaza.
Beberapa menteri dan politisi sayap kanan turut serta dalam aksi tersebut, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, serta anggota partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Menurut penyelenggara dari kelompok pemukim Nachala, sebanyak 28 menteri dan anggota Knesset dari koalisi pemerintah berpartisipasi dalam acara tersebut.
The Times of Israel menyebutkan bahwa para peserta tampaknya tidak berhasil menyeberangi perbatasan untuk masuk ke Jalur Gaza.
Sebelumnya, Ben Gvir mengunggah sebuah video di platform X yang mengklaim bahwa "Gaza adalah milik kita."
"Jika ada yang mengatakan tiga tahun lalu bahwa kita akan menguasai 70% Jalur Gaza, tidak akan ada yang mempercayainya," tulis Ben Gvir. "Itulah mengapa saya katakan hari ini bahwa akan ada pemukiman Yahudi di seluruh Gaza, dan kami akan mendorong migrasi ke sana."
Israel mengevakuasi blok Gush Katif dan pemukiman lainnya di Gaza pada Agustus 2005 di bawah rencana penarikan diri sepihak Perdana Menteri Ariel Sharon saat itu, yang juga mencakup evakuasi empat pemukiman di Tepi Barat bagian utara.