Puluhan Ribu Warga Gaza Kehilangan Pendengaran Akibat Bom Israel
Puluhan Ribu Warga Gaza Kehilangan Pendengaran Akibat Bom Israel

Puluhan Ribu Warga Gaza Kehilangan Pendengaran Akibat Bom Israel

16 Feb 2026 - Berita

Sekitar 35.000 anak-anak dan orang dewasa di Jalur Gaza kini hidup dengan gangguan pendengaran sebagian hingga total akibat pemboman berulang selama hampir dua tahun terakhir. Fakta ini terungkap dalam investigasi organisasi lokal yang dilaporkan surat kabar Prancis Le Monde, yang menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu dampak paling menghancurkan namun jarang terlihat dari perang yang terus berlangsung.

Laporan tersebut menyoroti apa yang disebut sebagai “bencana senyap”, yakni kerusakan pendengaran masif yang dialami warga Gaza, terutama anak-anak, di tengah hancurnya sistem kesehatan, minimnya tenaga medis spesialis, dan blokade ketat yang menghalangi masuknya peralatan medis penting.

Salah satu kisah yang diangkat adalah Dana, seorang anak perempuan yang kehilangan pendengarannya setelah sebuah rudal meledak di dekat kamar tidurnya. Sejak saat itu, keluarganya kesulitan berkomunikasi karena tidak ada satu pun anggota keluarga yang memahami bahasa isyarat, sementara layanan pendukung bagi penyandang disabilitas nyaris tidak tersedia di Gaza.

Dana akhirnya dibawa ke Atfaluna Society for Deaf Children, sebuah lembaga lokal yang tetap beroperasi meski kantor pusatnya hancur akibat serangan. Di sana, dokter menyatakan bahwa saraf pendengarannya rusak parah, kemungkinan besar hancur akibat gelombang ledakan.

Tragedi serupa dialami anak-anak yang lebih kecil. Le Monde juga menceritakan kisah Ayan Al-Qarra, seorang bayi yang terlempar oleh ledakan di dekat tenda pengungsian keluarganya dan terkubur pasir. Meski berhasil selamat, pemeriksaan medis memastikan pendengaran Ayan hilang sepenuhnya.

Ayan membutuhkan alat bantu dengar dan kemungkinan implan koklea untuk mencegah keterlambatan perkembangan serius. Namun, seperti ribuan keluarga lain di Gaza, akses terhadap alat tersebut nyaris mustahil akibat blokade dan tidak masuknya peralatan medis selama berbulan-bulan.

Para tenaga medis menjelaskan bahwa gangguan pendengaran di Gaza tidak hanya disebabkan oleh cedera langsung, tetapi juga oleh gelombang kejut akustik dari pemboman intensif, yang dapat merusak saraf pendengaran secara permanen meski tanpa luka luar.

Krisis ini diperburuk oleh pembatasan masuknya alat bantu dengar, baterai, dan peralatan medis dasar, bersamaan dengan rusaknya rumah sakit dan kelangkaan dokter spesialis. Kondisi pengungsian yang padat, kurang gizi, dan minim layanan kesehatan primer juga meningkatkan risiko gangguan pendengaran, terutama pada bayi dan anak-anak.

Direktur Atfaluna Society, Fadi Abed, menyatakan bahwa jumlah penyandang disabilitas di Gaza telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak perang dimulai. Jika sebelumnya tercatat sekitar 58.000 penyandang disabilitas, kini jumlahnya mencapai sekitar 132.000 orang, dengan sekitar 35.000 di antaranya kehilangan pendengaran.

Data PBB memperkuat gambaran krisis tersebut. Komite PBB tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas melaporkan sedikitnya 21.000 anak di Gaza mengalami disabilitas sejak 7 Oktober 2023. Selain itu, sekitar 40.500 anak terluka, dan lebih dari separuhnya hidup dengan cacat permanen.

PBB juga menyoroti bahwa penyandang disabilitas pendengaran dan penglihatan sering kali tidak mampu mematuhi perintah evakuasi, karena kondisi mereka membuat evakuasi menjadi hampir mustahil. Sejumlah laporan mencatat warga disabilitas terpaksa mengungsi dalam kondisi tidak aman dan tidak manusiawi, termasuk merangkak di pasir atau lumpur tanpa bantuan apa pun.

Pada Desember 2024, Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini memperingatkan bahwa Gaza kini memiliki proporsi anak penyandang disabilitas tertinggi di dunia.

Le Monde menyimpulkan bahwa tanpa perawatan dan dukungan yang memadai, satu generasi anak Gaza terancam mengalami isolasi pendidikan, sosial, dan psikologis. Gangguan pendengaran disebut sebagai salah satu dampak paling sunyi, namun paling brutal, dari perang yang terus menghancurkan Jalur Gaza.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya