Teror Pemukim Israel di Ras Ein al-Auja
16 Feb 2026 - Berita
Desa Ras Ein al-Auja, salah satu komunitas penggembala Badui terakhir di Tepi Barat bagian timur, hampir musnah setelah pengusiran massal yang dipicu oleh kekerasan pemukim Israel dan pembatasan akses terhadap sumber daya dasar. Sejak awal tahun, sekitar 450 dari 650 penduduk telah meninggalkan desa, sementara sebagian besar ternak dan rumah hancur atau dirampas.
Penduduk yang tersisa menghadapi ancaman berkelanjutan dari pos-pos pemukim bersenjata yang memblokir akses ke mata air dan lahan penggembalaan, serta perusakan panel surya dan properti pribadi. Kekerasan ini semakin berani karena impunitas yang hampir total, dengan penuntutan terhadap para pelaku jarang dilakukan, bahkan ketika korban adalah anak-anak.
Dampak Kekerasan dan Kehilangan Mata Pencaharian
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, lebih dari 1.800 serangan pemukim tercatat di Tepi Barat pada 2025, rata-rata lima serangan per hari, memengaruhi sekitar 280 komunitas. Di Ras Ein al-Auja, jumlah domba yang merupakan sumber penghidupan turun drastis dari 24.000 menjadi kurang dari 3.000.
Naif Ghawanmeh, 45, seorang penduduk desa, mengatakan, “Dua tahun tekanan psikologis di malam hari. Jika kau tidur, para pemukim akan membakar rumahmu.” Banyak keluarga terpaksa membakar perabotan sendiri sebelum mengungsi, menolak meninggalkannya untuk digunakan para pemukim.
Faktor Pemukiman dan Pos Terdepan
Perluasan pos-pos pemukim, sebagian besar ilegal menurut hukum internasional, didukung dan dilindungi pasukan Israel, terutama di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pos-pos ini berfungsi sebagai pangkalan untuk intimidasi, pembatasan pergerakan, dan pencurian ternak.
Selain itu, sekitar 700.000 pemukim Israel kini tinggal di Tepi Barat, dan sejak 2022 jumlah permukiman dan pos terdepan meningkat hampir 50 persen. Pos-pos penggembalaan, yang dijalankan oleh pemukim bersenjata termasuk remaja yang direkrut melalui program pemerintah, semakin membatasi akses penduduk Palestina ke tanah mereka sendiri.
Krisis Kemanusiaan yang Meluas
Kekerasan dan pengusiran telah menyebabkan setidaknya 44 komunitas Palestina di Tepi Barat mengungsi sejak perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023, memaksa 2.701 orang kehilangan tempat tinggal—hampir setengahnya anak-anak. Infrastruktur dasar seperti listrik dan air terputus, dan panel surya yang dipasang penduduk dihancurkan oleh pemukim.
Sumber daya yang tersisa kini hampir seluruhnya dikuasai atau dibatasi, membuat kehidupan komunitas Badui tradisional semakin tidak mungkin dipertahankan.
Kehilangan Identitas dan Budaya
Selain dampak fisik, pengusiran massal juga menghancurkan identitas komunitas. Lagu-lagu rakyat Palestina masih dinyanyikan untuk anak-anak sebagai satu-satunya hiburan tersisa, namun kehidupan sehari-hari dan tradisi penggembalaan yang telah berlangsung berabad-abad nyaris punah.
Ghawanmeh menuturkan, “Meninggalkan rumah, desa, itu sangat, sangat sulit. Tapi kami terpaksa melakukannya.” Desa yang dulunya ramai dengan kegiatan penggembalaan kini hening, menggambarkan kehancuran sosial, ekonomi, dan budaya akibat pengusiran dan kekerasan pemukim.