
Ada Narkoba di Tepung Bantuan untuk Warga Gaza
29 Jun 2025 - Berita
Kantor Media Pemerintah Gaza telah mengeluarkan peringatan mengerikan setelah ditemukannya narkotika kuat Oxycodone yang disembunyikan di dalam karung tepung yang didistribusikan melalui apa yang disebut pusat bantuan AS-Israel, yang lebih cocok disebut sebagai “perangkap kematian”.
Pihak berwenang khawatir obat tersebut mungkin sengaja dilarutkan atau digiling ke dalam tepung, sehingga makanan pokok menjadi senjata kesehatan terselubung. "Hal ini meningkatkan kejahatan menjadi serangan langsung terhadap kesehatan masyarakat," kata kantor tersebut.
Israel dianggap sepenuhnya bertanggung jawab, dan para pejabat menuduhnya menggunakan narkotika sebagai senjata untuk menimbulkan kecanduan, melemahkan ketahanan sosial, dan melakukan perluasan genosida “lunak” terhadap warga Palestina.
Pernyataan tersebut menyebut taktik ini sebagai bagian dari “perang kotor”—memanipulasi rasa lapar untuk menyuntikkan racun ke dalam pasokan bantuan—dan memperingatkan bahwa hal ini merupakan kejahatan perang dan pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Warga diimbau untuk menghindari pusat-pusat distribusi ini, memeriksa semua makanan secara menyeluruh, dan melaporkan segala hal yang mencurigakan. Pusat-pusat tersebut, menurut peringatan dalam pernyataan itu, bukanlah titik-titik bantuan, melainkan "alat untuk menjebak massa."
Keluarga dihimbau untuk memberikan edukasi kepada anak-anak tentang bahaya situs-situs tersebut, dan perlunya kewaspadaan masyarakat sebagai “garis pertahanan pertama.”
Kantor media tersebut meminta Dewan Hak Asasi Manusia PBB dan Mahkamah Pidana Internasional untuk menutup pusat-pusat tersebut, yang menurutnya telah menjadi “instrumen pembunuhan dan pemusnahan yang disengaja setiap hari.”
Ia juga menuntut diakhirinya blokade Israel dan pengembalian rute bantuan yang sah melalui badan PBB seperti UNRWA, bebas dari campur tangan Israel.
Mengungkap skala bencana tersebut, pernyataan tersebut mencatat bahwa hanya dalam waktu satu bulan, pusat-pusat tersebut telah menyebabkan 549 kematian, 4.066 cedera, dan 39 orang hilang di antara para pencari bantuan yang putus asa — sebuah jumlah korban yang disebut kantor tersebut sebagai "jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kerja kemanusiaan."