Bertahun-tahun Tanpa Sekolah, Israel Membuat Anak-anak Gaza Menghadapi Masa Depan yang Suram

Bertahun-tahun Tanpa Sekolah, Israel Membuat Anak-anak Gaza Menghadapi Masa Depan yang Suram

26 Oct 2025 - Berita

Dua tahun genosida Israel telah meluluhlantakkan sistem pendidikan Gaza, meninggalkan hampir satu juta anak tanpa sekolah, tanpa buku, dan tanpa masa depan. Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder, memperingatkan bahwa jika proses belajar tidak segera dimulai, Gaza akan menghadapi “generasi yang hilang.”

“Ini sudah tahun ketiga tanpa sekolah,” kata Beigbeder dalam wawancara di Yerusalem yang diduduki, Kamis, setelah kembali dari Gaza. “Jika kita tidak memulai transisi nyata pada Februari, kita akan memasuki tahun keempat, dan saat itu, kita benar-benar kehilangan satu generasi.”

Serangan Israel telah menghancurkan hampir seluruh infrastruktur publik di Gaza. Sekitar 85 persen sekolah hancur atau tidak dapat digunakan, dan bangunan yang tersisa kini menampung ribuan keluarga pengungsi. Menurut UNICEF, 142 sekolah rata dengan tanah dan 38 lainnya tidak dapat diakses karena berada di wilayah yang masih dikuasai pasukan pendudukan Israel.

Meskipun gencatan senjata yang ditengahi AS sejak Oktober memberi ruang bagi UNICEF dan mitranya untuk mendirikan pusat pembelajaran darurat, fasilitas itu hanya menjangkau sekitar seperenam dari anak-anak Gaza. Banyak ruang belajar berupa tenda plastik atau struktur logam di tengah reruntuhan, dengan anak-anak duduk di tanah dan menulis di papan kayu bekas.

“Ini jauh dari pendidikan yang layak,” ujar Beigbeder. “Namun tekad mereka untuk belajar tetap luar biasa, bahkan di bawah puing-puing.”

Sebelum genosida dimulai, Gaza sudah menghadapi sistem pendidikan yang tertekan akibat blokade 17 tahun Israel. Kini, membangun kembali sekolah hampir mustahil karena pembatasan masuknya bahan bangunan dan perlengkapan belajar, yang kerap diblokir di perbatasan dengan alasan keamanan.

“Bagaimana kami bisa memperbaiki ruang kelas tanpa semen, tanpa papan tulis, tanpa buku catatan?” tanya Beigbeder, menyoroti kebijakan Israel yang menghalangi pengiriman material kemanusiaan dasar.

PBB memperingatkan bahwa situasi ini memperdalam bencana kemanusiaan di Gaza. Banyak anak kini hidup dalam kelaparan, trauma, dan pengungsian permanen, korban langsung dari penghancuran sistematis terhadap masyarakat sipil Palestina.

Bagi UNICEF, membuka kembali sekolah di Gaza bukan sekadar pendidikan, melainkan pemulihan martabat dan hak hidup anak-anak Palestina. “Pendidikan harus jadi prioritas utama,” tegas Beigbeder. “Tanpanya, tidak ada masa depan bagi anak-anak Gaza dan dunia akan menjadi saksi dari hilangnya satu generasi karena kejahatan yang didiamkan.”

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya

Join Us!