Haaretz: Mayoritas Negara Boikot Konferensi AI Pendidikan di Israel
16 Feb 2026 - Berita
Israel menghadapi penolakan luas dari komunitas internasional terkait rencana penyelenggaraan konferensi global tentang kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan yang dijadwalkan berlangsung di Israel. Hal ini dilaporkan oleh surat kabar Israel, Haaretz, yang menyebut sebagian besar negara undangan memilih tidak berpartisipasi.
Menurut laporan tersebut, banyak negara menolak hadir sebagai bentuk penentangan terhadap perang Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, yang oleh sejumlah pihak digambarkan sebagai tindakan genosida. Penolakan ini dinilai mencerminkan dampak politik konflik Gaza terhadap posisi diplomatik Israel.
Sumber-sumber yang dikutip Haaretz menyebut upaya penyelenggaraan konferensi tersebut sebagai sebuah “kegagalan serius”, dengan konflik yang sedang berlangsung menutupi inisiatif internasional di bidang pendidikan dan teknologi.
Konferensi itu dijadwalkan berlangsung pada Februari di Pusat Konvensi Binyanei HaUma, Yerusalem yang diduduki, dan diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Israel. Pemerintah Israel dilaporkan telah menginvestasikan jutaan shekel untuk persiapan acara tersebut.
Undangan resmi telah dikirim sejak Agustus kepada para menteri pendidikan dan pejabat senior dari berbagai negara. Namun, mayoritas penerima undangan disebut tidak menunjukkan minat untuk melakukan perjalanan ke Israel dalam situasi saat ini. Seorang sumber mempertanyakan kelayakan waktu penyelenggaraan acara tersebut dengan menyatakan, “Siapa yang mengadakan konferensi internasional dalam kondisi seperti ini?”
Laporan Haaretz menyebut hanya segelintir negara yang memberikan respons positif, di antaranya Azerbaijan, Armenia, Kongo, dan Panama, serta Jerman dan Austria. Sejumlah kekuatan global utama dilaporkan tidak masuk dalam daftar peserta.
Selain penolakan diplomatik, konferensi ini juga menghadapi masalah internal. Proses tender untuk menunjuk produser acara baru selesai dua minggu lalu setelah dua penawar didiskualifikasi. Anggaran konferensi diperkirakan mencapai sekitar tujuh juta shekel.
Salah satu sumber mengatakan konferensi tersebut sebenarnya memiliki potensi besar untuk sukses, namun memperingatkan bahwa manajemen yang buruk dan situasi politik telah menempatkannya pada risiko kegagalan.
Meski konferensi direncanakan menghadirkan pembicara dari perusahaan teknologi besar seperti Google dan Microsoft, Haaretz menilai acara tersebut kemungkinan akan minim kehadiran internasional. Kondisi ini disebut mencerminkan meningkatnya isolasi diplomatik Israel di tengah perang yang terus berlanjut di Gaza.