Ini Alasan Trump dan Netanyahu Jadi Dua Orang Paling Berbahaya di Dunia Saat Ini
12 Mar 2026 - Opini
Perang Iran yang dipicu oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel tidak menunjukkan jalan keluar yang jelas. Konflik ini semakin meluas, digerakkan oleh kombinasi ego politik Trump dan visi ideologis Netanyahu tentang kawasan Arab.
Sejak serangan Iran dimulai, Trump terus mengeluarkan pernyataan yang berubah-ubah di media sosial. Mulai dari menyerukan pemberontakan rakyat Iran, menuntut penyerahan tanpa syarat, hingga menyatakan akan menentukan siapa pemimpin Iran berikutnya.
Namun salah satu pernyataannya yang paling kontroversial adalah ketika Trump menyebut pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai “kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka”.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih memberontak, ribuan warga Iran turun ke jalan untuk berkabung atas kematian Khamenei, bahkan saat pemboman masih berlangsung.
Trump membuat perhitungan yang salah. Sebab, dengan kematian Khamenei berpotensi menghidupkan kembali semangat revolusioner Iran yang sebelumnya lebih terkendali.
Dalam waktu singkat, Iran menunjukkan kemampuan untuk mengguncang sistem global, yakni menutup Selat Hormuz, mengganggu produksi minyak dan gas di wilayah Teluk, menciptakan krisis energi global yang lebih besar daripada krisis minyak 1973, hingga menyerang fasilitas militer dan sistem radar di kawasan.
Setelah kematian Khamenei, putranya Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai penerus. Keputusan ini menjadi sinyal bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan Washington maupun Tel Aviv. Banyak warga Iran yang sebelumnya kritis terhadap pemerintahnya kini justru bersatu karena kemarahan nasional terhadap serangan asing.
Jika perang tidak segera berakhir, maka dampak perang ini bukan lagi konflik regional. Dampaknya kini meluas ke pasar energi global, jalur perdagangan internasional, stabilitas kawasan Teluk, dan potensi keterlibatan negara-negara Barat.
Dampak tersebutlah yang membuat Trump mengambil langkah berisiko yang justru membuat perang lebih lama lagi, korban warga sipil lebih banyak lagi, yakni dengan mengirim pasukan darat, menguasai selat-selat strategis, dan mempertahankan jalur perdagangan global secara langsung.
Pada akhirnya, perang ini menjadi contoh bagaimana ego politik satu pemimpin dan ambisi ideologis pemimpin lain dapat mendorong dunia menuju krisis yang jauh lebih besar. Jika Trump mundur, reputasinya sebagai pemimpin kuat akan runtuh. Jika ia melanjutkan perang, konsekuensinya bisa berupa kehancuran ekonomi dan korban sipil yang jauh lebih besar.
Opini dari David Hearst, Co-founder Middle East Eye