
Kecaman Internasional pada Pembajakan Kapal Madleen oleh Israel
11 Jun 2025 - Berita
Israel menghadapi kecaman internasional yang semakin meningkat menyusul serangan angkatan laut Senin dini hari terhadap kapal kemanusiaan Madleen , yang berlayar menuju Jalur Gaza dalam upaya simbolis untuk mematahkan blokade selama 17 tahun di wilayah yang terkepung tersebut.
Menurut laporan saksi mata dan sumber aktivis, pasukan angkatan laut Israel mencegat Madeline di perairan internasional, jauh sebelum kapal itu dapat mendekati pantai Gaza. Di atas kapal tersebut terdapat 12 warga sipil tak bersenjata, aktivis berkebangsaan Prancis, Jerman, Brasil, Turki, Swedia, Spanyol, dan Belanda. Semua ditahan dan kapal tersebut secara paksa dialihkan ke pelabuhan Ashdod di pantai Palestina yang diduduki.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam intersepsi tersebut sebagai tindakan “pembajakan maritim,” dan menekankan bahwa tindakan tersebut terjadi di perairan internasional dan dengan demikian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Di Spanyol, Kementerian Luar Negeri memanggil duta besar Israel dan menyerahkan surat protes resmi. Wakil Perdana Menteri dan Menteri Tenaga Kerja Spanyol Yolanda Díaz mengecam serangan itu sebagai "penculikan kapal kemanusiaan," dan menyatakan: "Pelanggaran serius terhadap hukum internasional ini menuntut tanggapan tegas dari Uni Eropa." Ia juga menyatakan solidaritasnya terhadap para relawan yang ditahan dan menyerukan pembebasan mereka segera.
Amnesty International mengonfirmasi bahwa Madleen adalah misi kemanusiaan yang diawaki oleh warga sipil. Amnesty menekankan bahwa blokade Gaza telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Organisasi tersebut menggarisbawahi bahwa, berdasarkan hukum internasional, Israel sebagai kekuatan pendudukan berkewajiban untuk memastikan akses penduduk sipil terhadap barang-barang penting, termasuk makanan dan perlengkapan medis.
Amnesty lebih lanjut meminta agar mereka yang bertanggung jawab atas serangan itu dimintai pertanggungjawaban dan mendesak masyarakat internasional untuk menghentikan penghalangan sistematis Israel terhadap upaya kemanusiaan.
Kapal Madeline berangkat dari Italia pada tanggal 1 Juni sebagai bagian dari kampanye Freedom Flotilla Coalition untuk menentang pengepungan Israel di Gaza. Misinya bersifat simbolis tetapi juga mendesak: untuk mengirimkan bantuan penyelamat hidup kepada lebih dari dua juta warga Palestina yang terjebak dalam apa yang oleh kelompok hak asasi manusia disebut sebagai "penjara terbuka terbesar di dunia." Gaza telah mengalami lebih dari 20 bulan perang dan pemboman, yang menyebabkan penduduk sipil berada di ambang kelaparan, tanpa akses ke air bersih, tempat berlindung yang memadai, atau rumah sakit yang berfungsi.
Insiden ini menandai babak baru dalam daftar panjang serangan terhadap konvoi kemanusiaan yang menuju Gaza, yang memunculkan kekhawatiran baru mengenai impunitas yang terus dilakukan oleh pendudukan Israel, yang seringkali melanggar hukum maritim dan hukum kemanusiaan.
Organisasi hak asasi manusia, pakar hukum, dan pemerintah kini menyerukan kepada badan-badan internasional, termasuk Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk mengambil tindakan nyata guna melindungi misi kemanusiaan dan menegakkan akuntabilitas.