Kemenkes Gaza Desak Pembebasan Dr. Abu Safia
09 Aug 2026 - Berita
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza menyerukan tindakan mendesak untuk "menyelamatkan" nyawa dokter Palestina yang ditahan, Hussam Abu Safia, sebelum "terlambat".
Dokter spesialis anak tersebut telah ditahan oleh Israel sejak 2024 dan “kekhawatiran serius semakin meningkat” atas keselamatan nyawa serta kesehatannya, tulis Dr. Muneer al-Boursh di platform X pada hari Sabtu.
Ia mencatat adanya laporan bahwa Abu Safia mengalami penganiayaan saat berada di fasilitas penahanan Israel dan mengalami cedera pada mata, kepala, dan dadanya.
Penahanan Abu Safia yang terus berlanjut serta tiadanya perawatan medis telah membuat kondisi kesehatannya menjadi “sumber kecemasan luar biasa yang membutuhkan tindakan mendesak, bukan sekadar pernyataan yang ditunda-tunda,” tambah al-Boursh.
Abu Safia adalah direktur Rumah Sakit Kamal Adwan yang memimpin fasilitas tersebut—salah satu rumah sakit terakhir yang masih beroperasi di Gaza utara—melewati pengepungan selama 85 hari sebelum pasukan Israel menggerebeknya dan menahannya pada 27 Desember 2024.
Ia ditahan tanpa dakwaan di bawah undang-undang unlawful combatant (kombatan ilegal) Israel, yang mengizinkan penahanan tanpa batas waktu yang dapat diperpanjang; Mahkamah Agung Israel menolak banding untuk pembebasannya pada bulan Juni. Pengacaranya, yang mengunjunginya bulan lalu, melaporkan tanda-tanda baru penganiayaan dan penyiksaan. Kelompok-kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International dan Komisi Penyelidikan PBB, telah memperingatkan bahwa nyawanya berada dalam bahaya kritis.
Al-Boursh mengatakan bahwa "ironi" dari penahanan Abu Safia sangat "menyakitkan".
“Dr. Hussam Abu Safia, yang tetap berada di sisi para pasiennya di Rumah Sakit Kamal Adwan dalam kondisi paling kelam, kini mendapati dirinya berada di balik jeruji besi, dirampas kebebasannya, saat kekhawatiran meningkat atas keselamatan fisik dan kondisi penahanannya,” tulisnya.
“Kami menuntut pihak berwenang pendudukan [Israel] bertanggung jawab penuh atas nyawa dan keselamatannya, dan kami mendesak digelarnya pemeriksaan medis yang mendesak, independen, dan menyeluruh untuknya, guna memastikan ia menerima perawatan yang diperlukan,” tambah al-Boursh.
Kepala kementerian tersebut mendesak "kebebasan" bagi Abu Safia dan seluruh tenaga kesehatan yang ditahan oleh Israel. Ia juga menyerukan kepada Palang Merah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), PBB, serta kelompok-kelompok medis dan HAM untuk segera mengambil tindakan.
Israel 'Tidak Mematuhi Gencatan Senjata'
Imbauan tersebut disampaikan ketika koresponden Al Jazeera melaporkan penurunan drastis kondisi di seluruh sektor kesehatan Gaza, hampir 10 bulan setelah "gencatan senjata" yang terus dilanggar oleh Israel hampir setiap hari.
Pada hari Sabtu, tiga warga Palestina terluka akibat tembakan tentara Israel di utara Khan Younis, bagian selatan Jalur Gaza, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Palestina, Wafa. Pasukan Israel juga melakukan operasi pembongkaran besar-besaran di selatan kota tersebut sejak pagi hari, sementara kendaraan militer terus menembak di timur Jalan Salah al-Din dekat Jembatan Wadi Gaza di pusat wilayah kantong tersebut.
“Pendudukan Israel tidak mematuhi syarat-syarat gencatan senjata, bahkan tidak juga protokol yang dilampirkan pada gencatan senjata ini,” kata Noor Khaled dari Al Jazeera, melaporkan dari Kota Gaza.
Ia menambahkan bahwa zona “kuning” yang dikuasai Israel kini mencakup lebih dari 70 persen Jalur Gaza, membuat warga Palestina terkurung di kurang dari 30 persen wilayah—yang sebagian besarnya telah hancur.
Pintu perbatasan sebagian besar tetap ditutup dan sekitar 20.000 pasien menunggu untuk dievakuasi guna mendapatkan perawatan di luar negeri, tambah Khaled. Dari 600 truk bantuan yang seharusnya menyalurkan bantuan setiap hari, "yang masuk tidak melebihi 250 truk."
Dari Deir al-Balah, koresponden Ashraf Abu Amra mengatakan Rumah Sakit Nasser melaporkan "tiga hingga empat pasien meninggal setiap hari akibat kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis."
Mingu lalu, pasukan Israel menghancurkan gudang pasokan medis yang melayani hampir setengah juta orang dalam serangan langsung di dekat Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa.
Ajith Sunghay, kepala kantor hak asasi manusia PBB di wilayah pendudukan Palestina, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sistem kesehatan Gaza adalah salah satu yang paling parah terdampak. “Butuh beberapa generasi” bagi warga Palestina di Gaza untuk pulih dari trauma dan kehilangan ini, katanya. Ia memperingatkan bahwa masalah kurang gizi, krisis tempat tinggal, dan kurangnya air minum yang aman tidak dapat diatasi selama masuknya barang-barang kegunaan ganda (dual-use materials) terus diblokir oleh Israel.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan rumah sakit telah menerima dua jenazah korban yang meninggal akibat luka-luka mereka dan enam orang terluka dalam 24 jam terakhir. Korban terbaru ini menambah jumlah korban tewas sejak "gencatan senjata" Oktober lalu menjadi 1.257 jiwa dan 4.131 orang terluka. Secara total, perang pembantaian/genosida Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina sejak Oktober 2023.