Mengapa Manusia Lebih Utama dari Sekadar Puing dan Tembok?
05 Sep 2026 - Opini
Oleh: Dokter Balsam Al-Jadili
Sebuah anekdot kuno menceritakan bagaimana Tembok Besar Cina yang begitu megah bisa ditembus musuh. Penyebabnya sederhana, para invader tidak perlu memanjat tembok tinggi itu, mereka cukup menunggu kejatuhan dari dalam. Sebab para penjaganya telah kehilangan arah dan moral. Dengan keyakinan bahwa ketinggian dan ukurannya akan mencegah musuh-musuh mereka mencapai mereka. Terlepas dari akurasi sejarahnya, pesan moralnya sangat jelas, sebuah peradaban bisa membangun benteng terkuat, namun tetap runtuh jika lupa membangun kualitas manusia di baliknya.
Narasi ini sangat relevan ketika kita melihat realitas Palestina saat ini. Di tengah gemuruh berita tentang hancurnya infrastruktur, sekolah, dan penjajahan di Gaza, fokus dunia kerap tertuju pada satu hal, rekonstruksi fisik. Tentu, membangun kembali beton dan batu yang hancur adalah kebutuhan mendesak. Namun, tantangan terbesar pasca-genosida bukanlah sekadar mengembalikan bentuk bangunan, melainkan merekonstruksi manusia yang akan menghuninya.
Tembok dan hukum tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Pertahanan utama sebuah bangsa terletak pada nilai-nilai yang hidup dalam masyarakatnya.
Keluarga sebagai benteng pertama. Sebelum seorang anak mengenal hukum atau bersekolah, ia menyerap karakter dari rumahnya. Ketahanan keluarga adalah pondasi moral yang menentukan apakah suatu bangsa sanggup bertahan di bawah tekanan.
Kemudian martabat guru dan pendidikan. Pendidikan bukan sekadar formalitas mengejar ijazah atau profesi mencari nafkah. Ketika sosok guru kehilangan kehormatannya dan ilmu hanya menjadi alat status sosial, kita sedang kehilangan arah dalam mencetak generasi penerus.
Terakhir keteladanan sosial. Masyarakat membutuhkan figur yang dapat dipercaya. Mengikis rasa hormat kepada para pembimbing dan ilmuwan secara membabi buta hanya akan menyisakan ruang bagi penceroboh untuk memimpin opini publik.
Genosida Israel di Gaza memang sanggup meratakan bangunan fisik dalam hitungan detik. Namun, kehancuran yang lebih berbahaya terjadi secara perlahan ketika kepedulian, rasa tanggung jawab, dan moralitas dalam masyarakat mulai terkikis.
Dalam mendampingi setiap lembar berita perjuangan Palestina, kita perlu diingatkan bahwa proyek terbesar masa depan bukanlah sekadar membangun kembali gedung-gedung yang runtuh. Yang paling krusial adalah membangun kembali manusia yang berjiwa kuat, berpendidikan, dan berintegritas. Sang penjaga sejati yang akan merawat dan melindungi tanah airnya. Sebab, tak ada gunanya kita mendirikan tembok yang megah jika kita lupa membina penjaganya.
Sumber: https://shehabnews.com/p/163498