Penyiksaan dr. Abu Safiya di Penjara Israel

Penyiksaan dr. Abu Safiya di Penjara Israel

03 Sep 2026 - Berita

Dokter asal Gaza, Hussam Abu Safiya, dilaporkan masih terus mengalami penyiksaan fisik dan psikologis di dalam tahanan Israel. Kesaksian terbaru dari pengacaranya memicu kekhawatiran internasional yang kian mendesak terkait keselamatan jiwa kepala rumah sakit tersebut.


Penculikan dr. Abu Safiya terjadi pada 27 Desember 2024 di Rumah Sakit Kamal Adwan, Gaza utara. Pihak militer Israel menangkapnya setelah ia menolak perintah untuk mengosongkan rumah sakit yang saat itu menjadi salah satu fasilitas medis terakhir yang masih beroperasi.


Hingga kini, ia ditahan tanpa dakwaan resmi maupun proses peradilan di bawah undang-undang unlawful combatant. Kebijakan hukum ini kerap digunakan oleh otoritas Israel untuk menahan warga Palestina dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.


Pengacara korban mengungkapkan bahwa kliennya terus mengalami penganiayaan rutin oleh para penjaga penjara. Ia kerap dipukuli menggunakan tongkat pada area tubuh yang sensitif serta sengaja dirampas hak tidurnya menggunakan suara keras sepanjang malam.


Kondisi fisik dr. Abu Safiya dilaporkan menurun drastis dengan luka memar parah di bagian kepala, wajah, dan leher. Akibat memburuknya kondisi kesehatan tersebut, ia sempat dipindahkan ke pusat medis penjara untuk penanganan darurat.


Organisasi Physicians for Human Rights Israel (PHRI) tengah menempuh jalur hukum untuk menuntut pemeriksaan medis independen bagi dr. Abu Safiya. PHRI juga mendesak pembebasan tanpa syarat bagi dirinya dan 13 tenaga medis Gaza lainnya yang ditahan secara sewenang-wenang.


Komisi Penyelidikan PBB serta lembaga HAM internasional seperti Amnesty International mendesak Israel untuk segera menghentikan praktik penyiksaan ini. PBB menilai perlakuan terhadap dr. Abu Safiya mencerminkan pola pelanggaran hak asasi manusia yang meluas dan sistematis terhadap tahanan Palestina.


Data dari kelompok HAM menunjukkan bahwa kebijakan penyiksaan di penjara Israel telah menewaskan sedikitnya 105 tahanan Palestina sejak Oktober 2023. Saat ini, lebih dari 9.400 warga Palestina (termasuk ratusan wanita dan anak-anak) masih mendekam di tahanan Israel dalam kondisi rentan.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya