Natal Penuh Luka di Gaza
16 Feb 2026 - Berita
Di tempat yang masih menyimpan bekas luka genosida yang panjang dan menghancurkan, sebatang lilin Natal dinyalakan di dalam Gereja Keluarga Kudus Gaza, mengubah doa menjadi tindakan ketahanan. Misa tersebut mengirimkan pesan yang jelas: rakyat Gaza lintas agama dan identitas, tetap bertahan di tanah mereka meskipun dilanda kehancuran, pengepungan, dan upaya penghapusan berulang kali.
Ibadah Natal diadakan di Gereja Keluarga Kudus (Biara Latin) di Kota Gaza dalam suasana tenang dan khidmat, dihadiri oleh sejumlah kecil umat dan pendeta. Ini menandai perayaan keagamaan kolektif pertama sejak gencatan senjata berlaku, setelah berbulan-bulan pemboman Israel dan pengungsian massal memaksa penangguhan ibadah umum.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Misa menjadi penegasan kehadiran. Selama perang, gereja tersebut berfungsi sebagai tempat berlindung bagi puluhan keluarga pengungsi, baik Kristen maupun Muslim. Bangunan luarnya rusak akibat serangan di dekatnya, jendela pecah, dan dinding retak, sementara area sekitarnya tetap tidak aman untuk jangka waktu yang lama.
Misa tersebut diadakan setelah kunjungan pastoral selama tiga hari oleh Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, didampingi oleh Vikaris Patriarkal Uskup William Shomali dan beberapa imam. Kunjungan tersebut bertujuan untuk membuka perayaan Natal, menilai kebutuhan paroki Keluarga Kudus, dan menindaklanjuti upaya bantuan dan rekonstruksi awal yang sedang berlangsung.
Delegasi tersebut mengunjungi proyek-proyek kemanusiaan dan bertemu dengan para pemuka agama serta anggota paroki, menegaskan kembali ikatan yang mendalam antara komunitas Kristen Gaza dan Patriarkat Yerusalem. Anak-anak menyambut para pengunjung dengan lagu-lagu Natal sederhana dan gestur simbolis, sejenak mengembalikan kehangatan dan kegembiraan ke tempat yang telah lama diselimuti ketakutan dan kehilangan.
Patriark mengatakan kunjungan ini terasa berbeda dari kunjungan-kunjungan yang dilakukannya selama perang. Untuk pertama kalinya, katanya, ada ruang untuk ketenangan, meskipun penderitaan masih terlihat. Ia menekankan bahwa harapan tetap ada melalui anak-anak, sekolah, dan kehidupan masyarakat, dan menyampaikan solidaritas dari gereja-gereja dan lembaga-lembaga di seluruh dunia.