Para Ibu Gaza Berdoa Agar Anak-Anak Mereka Selamat Hari Ini
Para Ibu Gaza Berdoa Agar Anak-Anak Mereka Selamat Hari Ini

Para Ibu Gaza Berdoa Agar Anak-Anak Mereka Selamat Hari Ini

01 Dec 2025 - Berita

Membesarkan anak di Gaza telah menjadi perjuangan sehari-hari melawan rasa takut, kelaparan, dan ancaman kekerasan yang terus-menerus. Bagi Diana Shams, seorang ibu muda yang tinggal di Jalur Gaza bersama dua anaknya, menjadi seorang ibu berarti menjalani hidup di bawah bayang-bayang bom, drone, dan pengungsian terus-menerus.

Penulis buku A Different Kind of Motherhood, Shams merenungkan tantangan membesarkan anak di tengah perang: “Di Gaza, bahkan menjadi ibu pun menjadi sasaran. Mengandung nyawa berarti membawa risiko.”

Membesarkan anak berarti membesarkan mereka di tengah tembakan, ledakan, deru drone, dan pengungsian terus-menerus. Sebelum perang, saya tinggal di utara bersama dua anak dan suami saya. Kami menjalani kehidupan normal dan bahagia. Tetapi kami terpaksa meninggalkan rumah kami pada hari kedua perang. Saya menggendong Rose, bayi saya yang baru berusia tujuh bulan. Saya menulis buku ini karena saya percaya para ibu di seluruh dunia akan merasakan penderitaan kami; mereka membawa cinta, mimpi, dan kekuatan yang sama untuk anak-anak mereka. Di Gaza, para ibu berdoa agar anak-anak mereka selamat untuk hari berikutnya.”

Perempuan di Garis Depan Perjuangan Bertahan Hidup

UN Women menegaskan bahwa perempuan di Gaza sedang berjuang tanpa henti untuk menjaga keluarga mereka tetap hidup dalam kondisi yang bahkan kekurangan kebutuhan dasar sekalipun.

Pada konferensi pers di Jenewa Selasa lalu, Sofia Kaltorp, kepala urusan kemanusiaan badan tersebut, membagikan pengamatannya setelah kembali dari Jalur Gaza. Saat melakukan perjalanan dari utara ke selatan Gaza, ia menyaksikan realitas yang jauh lebih keras daripada gambar-gambar yang beredar daring: tenda-tenda yang sempit, tempat penampungan yang penuh sesak, dan rumah-rumah yang hancur menjadi puing-puing.

Kaltorp menekankan bahwa gencatan senjata belum memulihkan keadaan normal. Rasa takut terus mendominasi kehidupan, dan meskipun pemboman telah berkurang, kekerasan tetap berlanjut:

“Pembunuhan masih mengintai di jalanan, di tengah reruntuhan dan tempat perlindungan. Perempuan di Gaza telah menjadi garis pertahanan terakhir bagi anak-anak mereka. Mereka menghadapi kelaparan dan ketakutan secara bersamaan, mencoba menyerap guncangan dan kesedihan yang menumpuk hari demi hari.

Para ibu menghabiskan waktu berjam-jam mencari makanan, air, dan obat-obatan, sambil juga melindungi anak-anak mereka dari malam yang dingin, tembakan senjata, dan rasa tidak aman yang semakin meningkat.”

Statistik PBB mengungkapkan bahwa lebih dari 57.000 perempuan di Gaza kini menjadi satu-satunya pencari nafkah setelah kehilangan suami mereka dalam perang. Perempuan-perempuan ini berupaya membangun kembali keluarga mereka dalam kondisi yang hampir mustahil.

Kesulitan yang dialami tidak hanya sebatas kemiskinan dan kurangnya tempat tinggal. Banyak keluarga hidup terpapar cuaca buruk. Air merembes ke dalam tenda sementara, membuat anak-anak menggigil kedinginan di malam hari. Datangnya musim dingin memperparah kesulitan, karena para ibu tidak mampu menyediakan kehangatan, selimut, atau perlindungan yang memadai.

Kaltorp menceritakan pertemuannya dengan seorang wanita yang rumahnya hancur total. Setiap pagi, ia kembali ke reruntuhan untuk mengumpulkan kayu bakar, membakar sisa-sisa pintu yang dulunya melindungi keluarganya, hanya untuk memasak makanan sederhana bagi anak-anaknya.

Bagi para ibu di Gaza, bertahan hidup diukur dari hari ke hari. Keberanian mereka tak kenal lelah, dan cinta mereka tak tergoyahkan, bahkan ketika mereka menanggung kekerasan, pengungsian, dan kehilangan orang-orang terkasih. Setiap hari adalah perjuangan bukan hanya untuk bertahan hidup tetapi juga untuk memberikan rasa aman dan harapan bagi anak-anak mereka di tempat di mana masa kanak-kanak normal tidak lagi ada.


Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya