Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza Peringatkan Wabah Penyakit Misterius di Tengah Krisis Kesehatan
16 Feb 2026 - Berita
Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza memperingatkan situasi kesehatan yang memburuk dengan cepat, karena wabah penyakit yang belum terdiagnosis menyebar di tengah runtuhnya sistem perawatan kesehatan setempat dan kekurangan sumber daya medis yang parah.
Dr. Moataz Harara, kepala Departemen Gawat Darurat, mengatakan rumah sakit menerima lebih dari 500 pasien per hari selama dua minggu terakhir. Sekitar 200 kasus setiap hari melibatkan penyakit pernapasan berat, dengan gejala seperti demam tinggi, sesak napas, kelelahan ekstrem, diare, muntah, batuk, dan nyeri dada. Tingkat keparahan berbeda-beda, tetapi pasien dengan penyakit kronis menghadapi risiko kritis dan banyak yang memerlukan perawatan intensif. Menurut Dr. Harara, Kementerian Kesehatan belum mampu mengidentifikasi beberapa virus yang beredar karena keterbatasan laboratorium, dan kasus ini bukan COVID-19 atau influenza musiman.
Selain itu, Rumah Sakit Al-Shifa melaporkan peningkatan kasus leptospirosis, infeksi bakteri yang ditularkan oleh hewan pengerat, yang kini muncul dua hingga tiga kasus setiap dua bulan, dibandingkan sebelumnya hanya satu kasus setiap tiga tahun. Kasus kelumpuhan flaksid akut juga meningkat drastis, dengan sekitar 20 pasien dalam sebulan terakhir.
Dr. Ahmad Al-Rabie, kepala Departemen Pulmonologi dan Endoskopi, memperingatkan risiko serius bagi pasien pernapasan di Gaza akibat kekurangan obat-obatan dan peralatan medis, diperparah kondisi pengungsian yang sulit dan polusi udara. Sebagian besar warga kini tinggal di tenda atau penampungan darurat yang tidak layak, melemahkan kekebalan tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi pernapasan, influenza berat, dan pneumonia.
Krisis ini diperparah oleh bencana lingkungan: kekurangan air bersih, penumpukan sampah hampir 900.000 ton, kerusakan sistem limbah, serta pembatasan Israel terhadap masuknya obat-obatan, peralatan medis, dan perlengkapan kebersihan. Cuaca dingin ekstrem dan hujan tinggi menambah penderitaan keluarga pengungsi, terutama anak-anak, lansia, dan pasien kronis, yang harus tinggal di tenda yang kekurangan kebutuhan dasar.
Organisasi medis memperingatkan risiko epidemi lebih lanjut, termasuk kolera dan polio, akibat pembatasan yang terus diberlakukan Israel terhadap masuknya obat-obatan, alat kesehatan, dan perlengkapan medis ke Gaza. Para ahli kesehatan menyerukan bantuan segera dan pelonggaran pembatasan agar krisis kesehatan ini tidak berubah menjadi bencana yang lebih besar.