Setahun Setelah Teror “Tembok Besi,” Kamp-Kamp Pengungsi Tepi Barat Masih Dilanda Krisis
Setahun Setelah Teror “Tembok Besi,” Kamp-Kamp Pengungsi Tepi Barat Masih Dilanda Krisis

Setahun Setelah Teror “Tembok Besi,” Kamp-Kamp Pengungsi Tepi Barat Masih Dilanda Krisis

21 Jan 2026 - Berita

Satu tahun setelah pasukan pendudukan Israel melancarkan operasi “Tembok Besi,” kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat bagian utara tetap hancur, dengan pengungsian massal dan krisis kemanusiaan yang terus berlangsung. Warga Palestina dan pejabat setempat mengatakan operasi tersebut bertujuan menghancurkan kamp-kamp serta merampas identitas nasional dan politik penghuninya.

Operasi dimulai pada 21 Januari 2025 di kamp Jenin dan menyebar ke Tulkarm, Nur Shams, dan kamp-kamp lainnya, disertai pengepungan militer ketat, serangan berulang, serta penghancuran rumah, fasilitas publik, dan infrastruktur vital. Hampir 50.000 warga Palestina terpaksa mengungsi, puluhan gugur, ratusan luka-luka, dan ribuan bangunan rusak parah. Infrastruktur dasar seperti air, listrik, telekomunikasi, pembuangan limbah, dan jalan raya nyaris hancur total.

Aktivis politik Jamal al-Zubaidi menyebut situasi di Jenin sebagai bencana, dengan pasukan Israel terus membongkar rumah dan membangun jalan baru yang mengaburkan batas kamp dengan kota sekitarnya. Menurut al-Zubaidi, langkah ini dimaksudkan untuk menghapus status geografis, sosial, dan politik kamp, serta mengikis simbol perlawanan yang melekat pada komunitas tersebut.

Mohammad Ammara, anggota Komite Pusat Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina, menekankan bahwa kamp Tulkarm dan Nur Shams kini menjadi zona kosong yang hanya dihuni hewan, akibat pembatasan masuknya warga dan penghancuran infrastruktur. Ia memperingatkan bahwa penghilangan mata pencaharian dan lingkungan hidup yang aman merupakan bagian dari strategi paksa untuk mendorong migrasi keluar Tepi Barat.

Bantuan yang tersedia, baik dari UNRWA maupun otoritas Palestina, sangat terbatas dan jauh dari mencukupi kebutuhan dasar pengungsi. Ammara dan al-Zubaidi menegaskan bahwa operasi militer Israel tidak hanya menargetkan perlawanan bersenjata, tetapi juga berupaya menghancurkan gagasan perlawanan itu sendiri melalui pembongkaran fisik dan pengikisan fondasi sosial.

Meskipun demikian, warga pengungsi tetap teguh. Mereka menegaskan bahwa kamp-kamp akan tetap menjadi bukti perjuangan, dan identitas serta perlawanan mereka lebih kuat daripada buldoser dan realitas yang dipaksakan oleh pendudukan.

Setahun setelah operasi dimulai, puluhan ribu pengungsi masih hidup dalam ketidakpastian, tanpa prospek rekonstruksi yang nyata, sementara krisis kemanusiaan terus berlangsung.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya